GORONTALO — Program bank sampah yang dijalankan SRMA 13 Bekasi bersama BNI mendapat sorotan positif dari regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai inisiatif ini bukan sekadar kegiatan daur ulang, melainkan sarana edukasi finansial konkret bagi generasi muda.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyaksikan langsung praktik pengelolaan sampah yang hasilnya masuk ke rekening tabungan siswa saat berkunjung ke sekolah tersebut di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026).
Friderica menegaskan bahwa kecerdasan mengelola uang adalah fondasi yang wajib dimiliki anak muda, mendampingi kecerdasan akademik. Menurutnya, siswa yang terbiasa menabung sejak remaja akan lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan.
"Saya melihat ini sangat luar biasa. Mereka sudah praktik sendiri melalui bank sampah, mengumpulkan sampah, lalu hasilnya langsung masuk ke rekening tabungan masing-masing. Ini kebiasaan yang sangat baik," ungkapnya di SRMA 13 Bekasi.
Ia juga mengingatkan risiko yang mengintai generasi muda tanpa bekal literasi keuangan. "Percuma pintar dan punya banyak uang kalau tidak bisa mengelolanya. Nanti akhirnya tidak bisa menabung, malah berujung pada tumpukan utang," jelas Friderica.
Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, menjelaskan mekanisme program ini. Para siswa tidak hanya diajak memilah sampah, tetapi juga diajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan nilai ekonomi dari barang bekas.
"Alhamdulillah di SRMA 13 Bekasi sudah berjalan program Bank Sampah bekerja sama dengan BNI. Siswa diajarkan literasi keuangan sejak awal, mulai dari bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan hingga mengubahnya menjadi tabungan," ujar Lastri.
Yang menarik, tabungan yang terkumpul tidak hanya dibiarkan mengendap. Dana tersebut kemudian digunakan sebagai modal usaha kriya bagi para siswa. Mereka mengembangkan keterampilan membatik serta mendaur ulang sampah menjadi lukisan dan produk bernilai jual lainnya.
Di sisi lain, Friderica menyoroti tantangan besar yang dihadapi anak muda saat ini: kemudahan berbelanja secara online. Pola distraksi finansial remaja kini bergeser drastis dibanding masa lalu.
Jika dulu gangguan keuangan anak sekolah hanya sebatas jajan di luar gerbang sekolah, kini tantangannya jauh lebih kompleks. Friderica menyebut kebiasaan scrolling media sosial yang berujung pada transaksi impulsif menjadi bahaya laten.
"Anak Gen Z sekarang kan gemar scrolling media sosial yang rentan memicu kecemasan. Saat scrolling, mereka melihat barang belanjaan dan sedikit-sedikit ingin check out," katanya.
Ia memperingatkan bahaya gaya hidup konsumtif tanpa diimbangi kemampuan finansial. "Bahayanya jika belum memiliki penghasilan tetapi sudah konsumtif secara online tanpa tahu bagaimana cara membayarnya. Banyak anak muda sekarang yang menggunakan fitur buy now tanpa memikirkan skema paylater-nya," pungkasnya.
Program bank sampah di SRMA 13 Bekasi ini menjadi contoh bagaimana edukasi keuangan bisa dikemas dengan pendekatan praktis dan berdampak langsung, menjawab kebutuhan literasi finansial di tengah gempuran ekonomi digital.