GORONTALO — Wahdah Islamiyah tidak hanya berbicara soal ibadah, tetapi juga menyentuh persoalan konkret warga. Dalam dialog kebangsaan bertema "Membangun Keluarga Sehat, Masyarakat Berdaya, Menuju Indonesia Berkah", organisasi ini merumuskan tiga poin kontribusi: sehat hati, jasmani, dan ekonomi.
Ketua Umum Wahdah Islamiyah KH. Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A. menegaskan bahwa kondisi bangsa tidak seharusnya disikapi dengan pesimisme. Menurutnya, segelintir pihak dengan daya rusak besar tidak boleh mengalahkan niat baik mayoritas masyarakat.
"Ini negeri kita, dan orang baik itu lebih banyak. Namun yang segelintir ini daya rusaknya luar biasa. Maka bagaimana kami berkontribusi? Kami merumuskan tiga poin: sehat hati, jasmani, ekonomi," ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Dr. dr. Anang S. Otoluwa, MPPM. mengingatkan bahwa persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri. Faktor pendidikan, lingkungan, pola hidup, hingga kondisi sosial masyarakat saling berkaitan.
"Tema ini sangat relevan. Teman-teman Wahdah sudah mengerti betul dengan kesehatan dan lingkungan, juga penyebabnya," kata Anang.
Ia menyoroti angka stunting Gorontalo yang masih berada di 23,8 persen. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik anak, tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan otak dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Anang mengapresiasi kegiatan preventif seperti Fun Walk dan donor darah yang dilakukan Wahdah Islamiyah. Menurutnya, keterlibatan ormas dalam upaya promotif membantu pemerintah menjangkau ruang-ruang yang belum terisi.
Kepala Deputi Bank Indonesia Gorontalo Ciptoning Suryo Condro menyoroti dimensi ekonomi sebagai kunci pemberdayaan. Kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggir sistem perlu mendapat akses agar kembali berdaya.
"Masyarakat termajinalkan harus masuk kembali ke dalam sistem," katanya.
Ciptoning juga mendorong perubahan pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Ia menilai potensi di lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal oleh warga.
"Kita dididik bukan sebagai karyawan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan dengan memanfaatkan yang ada di sekitar," ujarnya.
Dialog berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan dari peserta. Topik yang mengemuka antara lain pengembangan pertanian anggur, judi online, LGBT, hingga peran perempuan dalam pemerintahan.
Menanggapi isu LGBT, Anang menekankan pendekatan edukasi dan pencegahan secara komprehensif. Keluarga, lingkungan pendidikan, tenaga kesehatan, tokoh agama, dan pemerintah harus terlibat dalam memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat.
Moderator Prof. Dr. Lukman A. R. Laliyo berharap gagasan dari forum ini tidak berhenti sebagai diskusi. Ia mendorong agar persoalan yang dibicarakan diterjemahkan menjadi gerakan dan langkah nyata di tengah masyarakat.