GORONTALO — Juru Bicara Kementerian ESDM, Agus Pribowo, menegaskan stok batu bara di dalam negeri dalam kondisi aman dan mencukupi untuk kebutuhan pembangkit listrik. "Tidak ada hubungannya dengan stok batu bara. Pasokan kami pastikan stabil," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin.
Pernyataan itu sekaligus membantah isu yang beredar di masyarakat yang mengaitkan pemadaman dengan krisis energi fosil. Menurut Agus, penyebab utama pemadaman adalah gangguan teknis yang terjadi di sejumlah gardu induk milik PT PLN (Persero).
Gangguan itu, lanjutnya, memicu sistem proteksi otomatis bekerja sehingga aliran listrik ke beberapa wilayah terputus sementara. PLN pun langsung bergerak melakukan perbaikan dan pemulihan secara bertahap sejak kemarin malam.
Pemadaman bergilir ini sempat membuat sebagian aktivitas warga di kawasan Tangerang dan Bekasi terganggu, terutama pada jam sibuk malam hari. "Kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Tim teknis sudah dikerahkan untuk memastikan keandalan sistem kelistrikan kembali normal," kata Vice President Public Relations PLN, Gregorius Adi Trianto, dalam keterangan terpisah.
PLN memastikan kejadian serupa tak akan terulang. Perusahaan pelat merah itu tengah mengaudit seluruh gardu induk di area Jabodetabek untuk mendeteksi potensi kerentanan jaringan. Selain itu, PLN juga menyiagakan pasokan cadangan dari pembangkit lain untuk mengantisipasi lonjakan beban puncak.
Kementerian ESDM menambahkan, data terbaru menunjukkan stok batu bara di pembangkit-pembangkit PLN rata-rata berada di level 20 hari operasi (HOP). Angka ini jauh di atas batas aman minimal yang ditetapkan, yakni 15 HOP.
"Jadi publik tak perlu khawatir soal pasokan listrik. Ini murni masalah teknis yang sudah kami atasi," pungkas Agus. Hingga pagi ini, PLN melaporkan 90 persen wilayah terdampak sudah kembali menyala. Proses pemulihan penuh ditargetkan rampung dalam 24 jam ke depan.