GORONTALO — Pelatih tari Sanggar Pajongge, Riski Harmain, mengatakan karya "Moragai" merepresentasikan empat tarian yang masing-masing menggambarkan aktivitas khas masyarakat Gorontalo. Mulai dari kehidupan nelayan, pengolahan hasil kelapa, aktivitas di kawasan Danau Limboto, hingga identitas budaya daerah.
“Tarian ini merepresentasikan empat tarian sekaligus yang diambil dari aktivitas masyarakat Gorontalo,” kata Riski.
Setiap tarian yang digabungkan memiliki cerita tersendiri. Hulondalo Lipuu menggambarkan keseharian masyarakat pesisir, sementara Linde merekam proses pengolahan kelapa yang menjadi komoditas utama. Bintea mengangkat dinamika kehidupan di sekitar Danau Limboto, dan Lilimu menjadi penanda identitas budaya Gorontalo.
Riski menjelaskan, penggabungan ini bukan sekadar menggabungkan gerak, melainkan merangkai narasi tentang hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sumber daya alam.
Menurut Riski, sejumlah gerakan dan musik dalam pertunjukan "Moragai" telah diaransemen ulang. Tujuannya agar lebih mudah diterima oleh generasi muda tanpa menghilangkan unsur budaya yang menjadi ciri khas masing-masing tarian.
“Gerakan dan musiknya kami aransemen kembali agar lebih mudah diterima oleh generasi muda, tetapi tetap mempertahankan pesan budaya yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Ia menilai, pelestarian budaya memerlukan keterlibatan aktif generasi muda. Tanpa adaptasi, kesenian tradisional berisiko kehilangan ruang di tengah maraknya hiburan digital dan konten instan.
Melalui pertunjukan ini, Sanggar Pajongge berupaya menghadirkan budaya lokal dalam kemasan yang lebih dekat dengan keseharian anak muda. Riski berharap, nilai-nilai sejarah dan tradisi yang terkandung dalam tarian dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Seni pertunjukan bisa menjadi media untuk mengenalkan sejarah, tradisi, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sumber daya alam yang menjadi bagian dari identitas daerah,” pungkasnya.