GORONTALO — Menteri P2MI, Mukhtarudin, meresmikan Migrant Center yang berlokasi di kampus Batam Tourism Polytechnic. Peresmian ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian P2MI dan pihak politeknik untuk pengembangan kurikulum serta pelatihan vokasi.
Migrant Center dirancang sebagai pusat pembekalan keterampilan bagi calon pekerja migran Indonesia. Fokus utama pelatihan meliputi sektor perhotelan, tata boga, dan layanan pariwisata yang sesuai dengan standar permintaan pasar kerja internasional.
"Kami tidak hanya mengirim pekerja, tetapi mempersiapkan tenaga profesional yang diakui kompetensinya," ujar Mukhtarudin dalam sambutannya. Kementerian menargetkan pusat ini mampu mencetak sedikitnya 50.000 tenaga terampil setiap tahunnya.
Pemilihan Batam didasari posisinya sebagai pintu gerbang lalu lintas pekerja migran ke Malaysia dan Singapura. Kedekatan geografis dengan negara tujuan utama memudahkan proses adaptasi dan penempatan. Selain itu, Batam Tourism Polytechnic dinilai memiliki fasilitas dan tenaga pengajar yang sesuai dengan kebutuhan industri jasa global.
Menteri Mukhtarudin menambahkan, pusat ini juga akan berfungsi sebagai pusat data dan informasi bagi calon pekerja migran. Mereka bisa mendapatkan informasi akurat mengenai gaji, hak, dan risiko kerja di luar negeri sebelum berangkat.
Kehadiran Migrant Center diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Proses pelatihan dan sertifikasi yang terpusat akan menyerap tenaga pengajar lokal dan pelaku usaha kecil di sekitar Batam. Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas pekerja migran berpotensi menaikkan nilai remitansi yang masuk ke Indonesia.
Kementerian P2MI mencatat, pada 2025, jumlah pekerja migran Indonesia yang ditempatkan di sektor formal masih di bawah 30 persen dari total penempatan. Pusat pelatihan ini menjadi salah satu instrumen untuk membalikkan rasio tersebut agar lebih banyak tenaga kerja terserap di sektor formal dengan upah lebih tinggi.
Setelah peresmian di Batam, Kementerian P2MI berencana membangun Migrant Center serupa di lima provinsi lain, termasuk Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara. Proses seleksi lokasi akan mempertimbangkan potensi tenaga kerja lokal dan kedekatan dengan bandara atau pelabuhan internasional.
MoU dengan Batam Tourism Polytechnic berlaku untuk jangka waktu lima tahun dan dapat diperpanjang. Isi perjanjian mencakup pengembangan modul pelatihan, sertifikasi kompetensi, serta penempatan lulusan melalui mitra perusahaan di luar negeri.