Kapitalisasi Pasar Meroket 175 Kali Lipat dalam Satu Dekade, Grup Merdeka Integrasikan Tambang hingga Energi

Penulis: Ivan Setiawan  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 12:57:02 WIB
Grup Merdeka memperlihatkan integrasi bisnis tambang hingga energi dalam Temu Tahunan Jasa Pertambangan 2026.

GORONTALO — Strategi mengikat seluruh rantai bisnis—dari menggali bijih hingga menyulap limbah menjadi produk bernilai—terbukti menjadi mesin pertumbuhan Grup Merdeka. Dalam Temu Tahunan Jasa Pertambangan (TTJP) 2026 di Badung, Bali, Chief Compliance Officer PT Merdeka Copper Gold, Muhammad Toha, mengungkapkan transformasi perusahaan yang awalnya hanya mengoperasikan satu tambang emas.

"Merdeka berkembang dari perusahaan yang awalnya hanya memiliki satu operasi tambang menjadi ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, pengolahan hingga energi dan kawasan industri," ujarnya, Rabu (3/6).

Dari Emas ke Nikel, Semua Diolah Sendiri

Grup ini tidak lagi bergantung pada satu komoditas. Setelah sukses dengan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI) di Banyuwangi, Merdeka mengakuisisi tambang tembaga PT Batutua Tembaga Raya di Pulau Wetar dan masuk ke bisnis nikel melalui Konawe Nickel Project di Sulawesi Tenggara.

Alih-alih menjual bahan mentah, perusahaan membangun fasilitas pengolahan sendiri. Di Morowali, bijih nikel diolah dengan teknologi pirometalurgi dan hidrometalurgi menjadi produk turunan bernilai tambah. Bahkan, proyek emas di Gorontalo—Pani Gold Project—juga akan dilengkapi pabrik pengolahan dengan teknologi Carbon in Leach (CIL) dan Heap Leach.

"Dari kegiatan pertambangan, produk yang kami hasilkan tidak dijual sebagai bahan mentah semata, tetapi diolah menjadi produk turunan sehingga nilai tambahnya meningkat berkali-kali lipat," jelas Toha.

Limbah Tambang Disulap Jadi Bahan Baku Baterai

Salah satu inovasi paling menarik adalah pemanfaatan material sisa pengolahan tambang tembaga di Wetar. Material yang dulu dianggap limbah kini diolah oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) menjadi asam sulfat, uap panas, besi oksida, hingga katoda tembaga dan emas.

Yang lebih cerdas, asam sulfat hasil olahan limbah itu langsung digunakan sebagai bahan baku utama fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) milik grup. Fasilitas HPAL ini mengolah bijih nikel limonit—yang sebelumnya kurang termanfaatkan—menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik.

"Menariknya, proses HPAL membutuhkan asam sulfat dalam jumlah besar. Kebutuhan tersebut dipenuhi oleh fasilitas AIM yang memanfaatkan material sisa dari operasi tambang di Wetar. Dengan demikian, tercipta integrasi yang saling mendukung antarunit usaha dalam grup," beber Toha.

Pipa Slurry 60 Km dan Pembangkit Listrik Sendiri

Efisiensi juga dikejar dari sisi logistik. Di Sulawesi Tenggara, Merdeka membangun sistem slurry pipeline sepanjang 60 kilometer yang menghubungkan tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral dengan kawasan industri Morowali. Bijih limonit dialirkan dalam bentuk slurry, menekan biaya angkut truk secara signifikan.

Tidak berhenti di situ, grup ini juga mengembangkan bisnis energi melalui proyek panel surya dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan operasional tambang dan pabriknya. Semua itu akan dipusatkan di Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), kawasan industri yang dirancang sebagai pusat pengolahan mineral terintegrasi.

Dengan model bisnis yang menyatukan tambang, smelter, listrik, dan kawasan industri dalam satu genggaman, Grup Merdeka optimistis efisiensi operasional terus meningkat dan nilai tambah setiap mineral yang digali bisa dimaksimalkan.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top