Dosen Universitas Negeri Gorontalo Soroti Kegagalan Metode Pengajaran Bahasa Inggris, Bukan Cuma Soal Teknologi

Penulis: Ivan Setiawan  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:23:31 WIB
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo, Zulkifli Tanipu, menyoroti stagnasi metode pengajaran yang mengabaikan esensi pembelajaran bahasa.

GORONTALO — Guru besar dan akademisi pendidikan bahasa di Gorontalo menyoroti stagnasi cara pandang dalam pembelajaran bahasa Inggris yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Zulkifli Tanipu, dosen tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, menyebut bahwa pertanyaan klasik tentang metode paling efektif atau teknologi paling mutakhir justru mengalihkan fokus dari esensi belajar itu sendiri.

Menurut Zulkifli, selama bertahun-tahun pembelajar dihabiskan untuk menekuni tata bahasa, menghafal kosakata, dan mengerjakan latihan. Namun, hasilnya kerap berbanding terbalik dengan kemampuan praktis di lapangan. Banyak siswa yang memahami aturan gramatikal tetapi ragu untuk berbicara, atau mengenal banyak kata tetapi kesulitan merangkai gagasan dalam tulisan.

Pengetahuan Linguistik Tidak Cukup untuk Mahir Berbahasa

Zulkifli menegaskan bahwa kondisi tersebut membuktikan penguasaan teori linguistik semata tidak otomatis melahirkan kemahiran berbahasa. Ada jurang pemisah antara mengetahui aturan dan mampu menggunakannya secara spontan dan kontekstual.

"Mereka memahami aturan, tetapi ragu berbicara. Mereka mengenal banyak kata, tetapi kesulitan menulis gagasan," ujarnya, menggambarkan ironi yang terjadi di ruang-ruang kelas.

Guru Menghadapi Medan Baru: Gangguan Digital dan Tuntutan Global

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi para pendidik saat ini jauh lebih kompleks dibanding dekade-dekade sebelumnya. Ruang kelas modern dipenuhi perangkat digital yang membuat rentang perhatian siswa semakin pendek dan mudah terpecah.

Di tengah kondisi itu, tuntutan komunikasi global justru meningkat. Zulkifli menilai peran guru hari ini tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan menjadi fasilitator yang membantu pelajar mengelola fokus, membangun literasi kritis, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai alat berpikir, bukan sekadar hafalan.

Perubahan konteks sosial dan teknologi ini, lanjutnya, menuntut sebuah revolusi cara pandang. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi "metode apa yang terbaik", melainkan "bagaimana manusia sebenarnya belajar bahasa" di tengah arus informasi yang deras.

Gagasan ini menjadi pengingat bahwa evaluasi kurikulum di daerah, termasuk Gorontalo, perlu menyentuh aspek psikologis dan sosiologis pembelajar, bukan hanya memperbarui buku teks atau perangkat keras di sekolah.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: darilaut.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top