GORONTALO — Peristiwa itu terjadi di area kebun milik korban yang hangus dilalap api. Warga dan petugas yang menemukan korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Kejadian ini menjadi alarm keras bagi aparat setempat yang tengah menghadapi lonjakan titik panas dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan catatan petugas di lapangan, sedikitnya ada 27 laporan titik kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di berbagai lokasi di Polewali Mandar. Luas lahan yang hangus mencapai belasan hektare, menjadikan karhutla sebagai bencana yang paling mendesak untuk ditangani.
Kondisi ini diperparah dengan musim kemarau yang membuat api cepat merambat. Kepungan asap juga mulai mengganggu aktivitas warga di sejumlah kecamatan, meski belum ada laporan resmi mengenai gangguan kesehatan massal.
Menyusul korban jiwa tersebut, petugas mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat, khususnya pemilik lahan dan warga lanjut usia. Mereka diminta untuk tidak nekat melakukan pemadaman api secara mandiri tanpa perlengkapan yang memadai.
Langkah ini dinilai terlalu berisiko, mengingat kecepatan angin dan medan yang sulit diprediksi saat karhutla terjadi. Petugas menegaskan bahwa keselamatan jiwa jauh lebih utama dibandingkan upaya menyelamatkan lahan atau tanaman.
Masyarakat yang menemukan titik api diminta untuk segera melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa, kantor kecamatan, atau petugas pemadam kebakaran terdekat. Pelaporan yang cepat memungkinkan mobilisasi armada pemadam dilakukan sebelum api meluas.
Keterlambatan laporan, menurut petugas, kerap menjadi penyebab api sulit dikendalikan karena sudah membesar lebih dulu. Warga juga diingatkan untuk tidak menunggu api membesar sebelum menghubungi petugas.
Karhutla di Polewali Mandar merupakan bagian dari pola kebakaran yang kerap terjadi di Sulawesi Barat saat puncak kemarau. Sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar, baik disengaja maupun tidak.
Petugas masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kebakaran yang menewaskan lansia tersebut. Sementara itu, upaya pendinginan lahan dan patroli terpadu terus dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru di hari-hari berikutnya.