GORONTALO — Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya kembali terjadi. Fenomena ini memicu reaksi cepat dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah yang meminta Pertamina bertanggung jawab atas kelancaran penyaluran BBM di wilayah setempat.
Junaidi, Wakil Ketua III DPRD Kalteng, menilai situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, antrean yang mengular bukan sekadar masalah kemacetan, tetapi berdampak langsung pada biaya operasional warga dan pelaku usaha yang bergantung pada transportasi.
"Kami minta Pertamina memastikan kuota BBM untuk Palangka Raya benar-benar aman. Jangan sampai masyarakat dibuat resah oleh ketidakpastian pasokan," ujarnya.
Belum ada pernyataan resmi dari Pertamina mengenai penyebab pasti penumpukan kendaraan di SPBU kali ini. Namun, pola yang terjadi di lapangan menunjukkan adanya kekhawatiran warga terhadap kelangkaan, yang kemudian memicu pembelian dalam jumlah besar secara bersamaan.
Situasi ini jelas merugikan. Waktu terbuang, konsumsi bahan bakar untuk mengantre meningkat, dan aktivitas distribusi barang ikut melambat. DPRD Kalteng menilai kekhawatiran ini muncul karena tidak ada kejelasan informasi mengenai jadwal dan jumlah pasokan dari pihak Pertamina.
Junaidi menegaskan bahwa DPRD tidak hanya meminta kelancaran fisik, tetapi juga transparansi data kuota. Menurutnya, publik perlu tahu berapa sebenarnya alokasi BBM untuk Kalteng dan bagaimana skema penyalurannya ke setiap SPBU. Dengan begitu, spekulasi dan kepanikan di masyarakat bisa diredam sejak awal.
"Ini soal kepercayaan. Kalau kuota jelas dan komunikasi berjalan baik, masyarakat tidak akan panik dan menyerbu SPBU," tambah Junaidi.
Ia berharap Pertamina segera bergerak cepat, tidak hanya menambah pasokan tetapi juga mengoptimalkan komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Koordinasi yang baik antara Pertamina, Hiswana Migas, dan aparat keamanan di lapangan dinilai penting untuk mengurai antrean dan mencegah potensi gangguan keamanan.
Antrean di SPBU memang bukan persoalan baru di daerah ini. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, masalah ini bisa berulang dan berpotensi menghambat laju ekonomi daerah yang sedang bertumbuh. Publik kini menunggu langkah konkret Pertamina untuk memastikan pasokan aman hingga momen-momen krusial seperti akhir pekan dan hari libur.