GORONTALO — Catatan Bank Indonesia menunjukkan kelompok barang kayu dan gabus dengan kode SITC 24 masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Gorontalo, namun volumenya terus tergerus. Pada Mei 2026, komoditas ini hanya tercatat 10 juta ton, berbanding jauh dengan capaian Februari 2026 yang sempat menyentuh puncak 45,4 juta ton.
Penurunan ini bukan peristiwa mendadak. Data historis memperlihatkan tren penurunan konsisten sejak awal tahun, dan angka Mei 2026 menjadi titik terendah yang pernah dicatatkan dalam satu setengah tahun terakhir. Pada periode yang sama tahun lalu, ekspor kayu dan gabus Gorontalo masih mampu mencapai 20,43 juta ton.
Meski turun, kayu dan gabus tetap mendominasi struktur ekspor Gorontalo. Rekap dokumen pabean mencatat ada 13 kelompok barang yang diekspor dari provinsi ini, dan kelompok SITC 24 berkontribusi paling besar terhadap total volume.
Total ekspor Gorontalo pada Mei 2026 tercatat 22,17 ribu ton. Artinya, komoditas kayu dan gabus masih menyumbang porsi terbesar, meski kinerjanya sedang tertekan.
Di luar kayu dan gabus, ada dua kelompok barang lain yang ikut mengisi keranjang ekspor Gorontalo. Kelompok buah-buahan dan sayur-sayuran dengan kode SITC 05 mencatatkan volume 1,05 juta ton, menempati posisi kedua dalam struktur ekspor daerah.
Selanjutnya, kelompok ikan, kerang-kerangan, moluska dan olahannya dengan kode SITC 03 menyumbang 8.360 ton. Data ini menunjukkan upaya diversifikasi komoditas ekspor di luar sektor kehutanan mulai berjalan, meskipun skalanya masih jauh di bawah kayu dan gabus.
Pelemahan volume ekspor kayu dan gabus yang berkelanjutan ini patut menjadi perhatian bagi para pelaku usaha dan pemerintah daerah. BI mencatat tren ini sudah berlangsung selama lima bulan terakhir, menandakan adanya tekanan berkelanjutan pada sektor tersebut.
Meski bahan ini tidak merinci penyebab pasti di balik penurunan tersebut, fluktuasi permintaan pasar internasional dan dinamika harga komoditas kerap menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja ekspor komoditas berbasis sumber daya alam seperti kayu dan gabus.
Data historis 17 bulan terakhir menunjukkan volatilitas yang tinggi pada komoditas ini. Setelah mencapai rekor tertinggi di Februari 2026, penurunan tajam terjadi hanya dalam tiga bulan berselang, mengindikasikan sensitivitas sektor ini terhadap perubahan kondisi pasar global.