KOTA GORONTALO — Pemerintah Provinsi Gorontalo sukses mengamankan komitmen anggaran jumbo senilai Rp1,24 triliun dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dana ini dialokasikan untuk menyulap 62 desa pesisir menjadi kawasan mandiri melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Transformasi besar tersebut diproyeksikan mengubah wajah ekonomi nelayan lokal secara signifikan.
Kepastian proyek muncul usai Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung KNMP di Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo. Kunjungan Kepala Negara tersebut menjadi katalisator bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sinergi dengan pusat. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengakselerasi pengembangan sektor kelautan unggulan daerah.
Anggaran triliunan rupiah tersebut akan membiayai pembangunan infrastruktur sekaligus penguatan ekosistem pendukung di 62 lokasi. Program ini tidak sekadar memperbaiki fisik pemukiman, melainkan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Targetnya, nelayan Gorontalo mampu bersaing di pasar yang lebih luas melalui fasilitas modern.
Keberhasilan ini menjadi buah diplomasi intensif Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, yang sebelumnya sukses menarik proyek hilirisasi ternak. Gusnar meyakinkan KKP bahwa program Agromaritim miliknya selaras dengan visi nasional KNMP. Sinergi kebijakan ini menjadi kunci utama cairnya dukungan pusat bagi Bumi Serambi Madinah.
“Ini adalah apresiasi atas kerja keras kita semua. Program Agromaritim bukan hanya tentang menanam atau menangkap ikan, tapi tentang membangun ekonomi pesisir berbasis ekosistem,” tegas Gubernur Gusnar Ismail saat mendampingi Presiden Prabowo.
Pemerintah Provinsi Gorontalo kini bergerak cepat menindaklanjuti komitmen tersebut. Gubernur menginstruksikan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk menuntaskan syarat administratif. Langkah ini krusial agar pembangunan fisik di puluhan titik segera dimulai tanpa kendala birokrasi.
Beberapa poin krusial menjadi fokus utama dalam percepatan ini. Hal tersebut mencakup verifikasi lokasi spesifik, legalitas lahan, hingga penyusunan detail teknis yang relevan dengan kebutuhan nelayan. Koordinasi lintas sektoral pun diperketat guna menjamin ekosistem ekonomi berjalan optimal sejak hari pertama.
Gubernur menekankan bahwa peluang emas ini harus ditangkap secara kolektif oleh seluruh jajaran pemerintah daerah. Sinergi antara provinsi dan kabupaten/kota menjadi penentu efektivitas penyerapan anggaran jumbo tersebut. Kesejahteraan masyarakat bawah menjadi muara akhir dari seluruh upaya pembangunan ini.
“Ini adalah kesempatan emas yang akan kami jemput bersama. Saya mengajak mari kita bergandeng tangan memanfaatkan sebaik-baiknya anggaran besar ini untuk kepentingan nelayan,” tutup Gusnar Ismail.