JAKARTA — Busana bertema "Harmoni Biru Karawo Gorontalo" yang dikenakan Nani Ismail Mokodongan merepresentasikan kekayaan alam Gorontalo dalam desain modern bernilai seni tinggi. Desain tersebut mengaplikasikan motif Karawo yang terinspirasi dari visual hiu paus, fenomena alam ikonik yang menarik perhatian wisatawan.
Motif hiu paus dipadukan dengan estetika gerak gelombang laut. Pemilihan warna biru melambangkan ketenangan, kedalaman, kepercayaan, serta keluasan cara pandang.
Pesan Konservasi di Balik Motif Hiu Paus
Perpaduan motif dan warna pada busana Nani tidak hanya menampilkan keindahan visual. Karya itu juga menyampaikan pesan konservasi dan identitas bahari Gorontalo.
Hiu paus menjadi pilihan motif karena merupakan salah satu ikon wisata bahari Gorontalo yang mendunia. Lewat busana ini, pesan pelestarian laut disampaikan melalui medium kriya tradisional.
Karawo Dikerjakan Tangan Perempuan Gorontalo
Daya tarik utama busana tersebut terletak pada proses pembuatannya yang tetap menjunjung tinggi tradisi manual. Seluruh detail sulaman Karawo dikerjakan dengan penuh ketelitian oleh tangan-tangan terampil perempuan Gorontalo.
Proses pembuatan kain Karawo melalui tahapan panjang dan rumit. Tahapan itu mulai dari mengiris, mencabut benang kain, hingga menyulam untuk membentuk ruang-ruang terawang khas yang menjadi ciri otentik kerajinan Gorontalo.
Kerumitan itulah yang membuat setiap helai kain Karawo punya nilai seni tinggi. Tidak ada dua karya yang benar-benar identik karena seluruh prosesnya dikerjakan manual.
Panggung Nasional Jadi Ajang Promosi Kriya Nusantara
Parade fashion show di Hall B Jakarta International Convention Center (JCC) diikuti seluruh ketua Dekranasda provinsi se-Indonesia. Kegiatan ini menjadi panggung promosi kekayaan kriya nusantara.
Melalui ajang nasional ini, keindahan dan kehalusan karya seni tradisional Karawo semakin diperkenalkan kepada masyarakat luas. Karawo sekaligus memperkuat identitas budaya Gorontalo di tingkat nasional.
Karawo merupakan kerajinan sulam khas Gorontalo yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda. Kehadirannya di panggung nasional membuka peluang lebih luas bagi perajin lokal untuk menjangkau pasar di luar daerah.