Pencarian

4 UMKM Binaan BI Gorontalo Bawa Karawo ke Panggung Indonesia Fashion Week 2026, Ini Kisah Perajin di Baliknya

Kamis, 30 Juli 2026 • 19:51:01 WIB
4 UMKM Binaan BI Gorontalo Bawa Karawo ke Panggung Indonesia Fashion Week 2026, Ini Kisah Perajin di Baliknya
Empat jenama binaan Bank Indonesia Gorontalo menampilkan kain Karawo dalam peragaan busana Indonesia Fashion Week 2026 di Jakarta.

GORONTALO — Di balik gemerlap panggung IFW 2026, ada kisah panjang para perajin yang menganyam serat kain dengan ketelitian tinggi. Serat kain diiris dan dicabut perlahan, lalu ruang kosongnya diisi dengan sulaman. Dari tangan-tangan terampil itulah lahir karya yang menyimpan tradisi, kreativitas, dan denyut ekonomi masyarakat Gorontalo.

Empat jenama yang tampil adalah House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan DâKorsase. Mereka merupakan binaan BI Gorontalo yang telah melalui proses pembinaan kapasitas usaha, inovasi, hingga akses pasar.

House of Abhiee: Menggerakkan 50 Perempuan Perajin

Di balik House of Abhiee, ada sosok Abidin Ishak yang sejak 2012 mengembangkan Karawo menjadi koleksi gaya hidup modern. Karyanya meliputi tunik, kemeja, jaket, setelan jas, hingga gaun malam.

Perjalanan Abidin turut menggerakkan kelompok perajin yang beranggotakan sekitar 50 perempuan, sebagian besar ibu rumah tangga. Mereka mendapat tambahan penghasilan dari keterampilan menyulam.

Tethuna: Dari Ankara ke Panggung Nasional

Mohammad Ramdhan Mopangga mendirikan Tethuna pada 2014. Jenama ini mengolah kain daerah menjadi busana modern dan berkelas. Beberapa penyanyi nasional tercatat pernah mengenakan rancangannya saat tampil di panggung.

Rekam jejak Ramdhan semakin kuat setelah meraih juara pertama Indonesia Young Fashion Designer Competition 2023 melalui karya bernuansa Karawo. Sebelumnya, Tethuna juga membawa fesyen Gorontalo dalam peragaan busana di Ankara, Turki.

TIAR Handycraft: Ecoprint Bertemu Sulaman Karawo

Isnawati Mohamad membangun TIAR Handycraft pada 2019 dari kegelisahan terhadap persoalan lingkungan di sekitar Danau Limboto. Awalnya, ia mengolah eceng gondok yang dianggap mengganggu menjadi kerajinan bernilai ekonomi.

Saat pandemi menekan usaha, Isnawati memperluas langkah ke fesyen ramah lingkungan. Pada 2021, ia mempertemukan warna alami ecoprint dengan sulaman Karawo. Inovasi itu melahirkan busana yang membawa warisan budaya sekaligus semangat keberlanjutan.

DâKorsase: Karawo dalam Bentuk Tas dan Aksesori

Ulfa Ali melalui DâKorsase menghadirkan Karawo dalam bentuk berbeda. Sulaman khas Gorontalo tidak hanya diterapkan pada kain dan busana, tetapi juga dikembangkan menjadi tas, dompet, dan aksesori sehari-hari.

Karya DâKorsase pernah menjadi aksesori pendamping dalam panggung Sustainable Muslim Fashion ISEF 2021. Pendekatan ini membuat Karawo semakin dekat dengan konsumen sekaligus memperluas ruang kreativitas dan pasarnya.

Melalui pembinaan dari Pemerintah Provinsi Gorontalo, Dekranasda Provinsi Gorontalo, dan Bank Indonesia, keempat UMKM ini diharapkan memperkuat posisi Karawo. Bukan hanya sebagai warisan yang dijaga, tetapi sebagai sumber nilai tambah dan penghidupan yang terus berkembang.

Saat para model melangkah di panggung IFW 2026, yang ikut bergerak bukan hanya busana dan aksesori. Di dalamnya turut berjalan ketekunan para perajin, harapan keluarga, serta cerita Gorontalo yang sedang merajut jalan menuju pasar nasional dan dunia.

Bagikan
Sumber: dulohupa.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks