GORONTALO — Porsche 911, Mercedes-Benz S-Class, BMW 7 Series, dan GMC Hummer EV kini memakai sistem kemudi roda belakang untuk mempertajam manuver. Teknologi yang membelokkan roda belakang beberapa derajat ini membantu sedan mewah parkir di ruang sempit dan menstabilkan mobil sport di kecepatan tinggi. Sistemnya tidak murah, sehingga jarang dipakai di mobil murah.
Pabrikan premium dan performa tinggi makin sering membekali kendaraan mereka dengan rear-wheel steering, atau kemudi roda belakang. Sistem ini melengkapi kemudi roda depan konvensional dengan mengubah sudut roda belakang, umumnya hanya beberapa derajat, lewat aktuator, sensor, dan kontrol elektronik yang menghitung berdasarkan kecepatan serta kondisi berkendara.
Pada mobil biasa, memutar setir hanya mengubah sudut roda depan, sementara roda belakang tetap lurus mengikuti arah poros depan. Penambahan kendali di roda belakang memberi satu lapis kontrol ekstra yang hasilnya berbeda tergantung kecepatan.
Di kecepatan rendah, roda belakang umumnya membelok ke arah berlawanan dengan roda depan. Ketika pengemudi membelok ke kiri, roda depan mengarah ke kiri sementara roda belakang sedikit ke kanan.
Efeknya memperkecil radius putar kendaraan. Manuver di tikungan sempit, jalan kecil, dan garasi parkir yang padat jadi lebih mudah, terutama untuk sedan mewah berukuran penuh atau SUV listrik besar yang dimensinya menyulitkan di ruang terbatas.
Alih-alih butuh beberapa kali gerakan untuk menyelesaikan putaran tajam, pengemudi sering cukup sekali manuver. Perubahan mekanis yang relatif kecil ini terasa signifikan dalam pemakaian harian.
Pada kecepatan tinggi, sistem biasanya membalik pendekatannya. Roda belakang berbelok searah dengan roda depan, bukan berlawanan.
Saat pengemudi membelok ke kiri, roda belakang juga sedikit ke kiri. Bagian belakang kendaraan mengikuti bagian depan lebih mulus dan mengurangi kecenderungan berputar pada porosnya. Hasilnya, kendaraan lebih stabil dan mudah diprediksi, khususnya saat berpindah lajur di jalan tol dan perubahan arah cepat.
Pada mobil performa, teknologi ini meningkatkan respons di tikungan tanpa mengorbankan ketenangan. Kendaraan dengan jarak sumbu roda panjang yang biasanya butuh usaha lebih untuk berubah arah cepat juga terbantu karena poros depan dan belakang bekerja terkoordinasi.
Biaya dan kompleksitas jadi alasan teknologi ini belum menyebar ke semua mobil. Sistem kemudi konvensional hanya mengendalikan roda depan, sedangkan kemudi roda belakang menambah aktuator, sensor, kabel, kontrol elektronik, dan perangkat lunak. Komponennya juga lebih banyak dan berpotensi butuh perawatan atau perbaikan.
Bagi pabrikan mobil harian yang terjangkau, tambahan biaya itu sering tidak sepadan. Mobil kompak dan sedan keluarga umumnya sudah punya radius putar cukup kecil dan handling yang mudah diprediksi tanpa teknologi ini.
Karena itu, kemudi roda belakang lebih sering muncul di kendaraan yang manfaatnya terasa nyata:
Diskusi di Reddit menunjukkan pemilik mobil dengan kemudi roda belakang paling menghargai sistem ini saat bermanuver di ruang sempit. Dalam perbincangan sesama pemilik Porsche 911, para pengemudi menyoroti radius putar yang lebih kecil dan kemudahan yang ditawarkannya.
Contoh-contoh di atas memperlihatkan bagaimana teknologi dasar yang sama bisa melayani tujuan berbeda, dari parkir di gang sempit sampai menjaga kestabilan di tikungan cepat.