GORONTALO — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memangkas harga perak batangan Rp 650 menjadi Rp 40.300 per gram pada perdagangan Selasa (13/10/2026), mengikuti pelemahan harga perak dunia yang turun 0,22 persen ke US$ 60,17 per ons. Penurunan terjadi saat dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam 18 bulan, menjelang rilis data inflasi yang akan menentukan arah suku bunga The Federal Reserve.
Antam menawarkan perak batangan dalam dua ukuran besar, yakni 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran dengan kemurnian 99,95 persen. Harga perak batangan 250 gram ditetapkan Rp 10.600.000, sedangkan ukuran 500 gram dibanderol Rp 20.275.000.
Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,22 persen menjadi US$ 60,17 per ons. Pelemahan terjadi seiring penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan, yang membuat logam mulia berbasis dolar AS jadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pasar kini menanti data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan rilis Rabu, disusul data inflasi tingkat produsen pada Kamis. Pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 80 persen The Fed mempertahankan suku bunga bulan ini, sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai hampir 88 persen.
Ketegangan geopolitik turut menjaga harga minyak tetap tinggi. AS masih mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi dalam operasi melawan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman, sementara kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina dilaporkan mengalami pelanggaran.
Harga emas di pasar spot turun 0,6 persen menjadi US$ 4.170,62 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2 Oktober pada sesi sebelumnya. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,5 persen menjadi US$ 4.195,10 per ons.
"Kami melihat adanya tekanan jual pada emas karena nilai tukar dolar mendekati level tertinggi dalam satu setengah tahun," ujar Analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
Pasar obligasi dan kantor pemerintah AS tutup pada Senin untuk memperingati Columbus Day. Konflik yang memanas di Timur Tengah juga membuat investor tetap waspada terhadap pergerakan aset safe haven.
Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Federal Reserve Kevin Warsh serta sejumlah data inflasi penting pekan ini untuk memperkirakan arah kebijakan moneter. Laporan CPI AS rilis Rabu, diikuti data indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel pada Kamis.
"Menurut saya, laporan-laporan tersebut tidak akan menunjukkan tanda-tanda penurunan inflasi, dan kemungkinan besar akan berdampak negatif (bearish) bagi pasar logam," tambah Wyckoff.
Dalam lingkungan suku bunga tinggi, investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil dibandingkan emas dan perak yang tidak menghasilkan bunga. Pasar melihat peluang 87 persen kenaikan suku bunga pada Desember, berdasarkan data FedWatch milik CME.
Penurunan harga perak Antam kali ini menambah tekanan bagi investor logam mulia yang sudah menghadapi koreksi emas. Pergerakan harga pekan ini akan sangat bergantung pada hasil rilis data inflasi AS dan sinyal yang disampaikan Kevin Warsh.