GORONTALO — Fase grup Piala Dunia 2026 baru saja menyelesaikan putaran pertama. Seluruh 48 tim telah turun, dan jika hanya melihat papan skor, banyak cerita yang terlewat. Analisis data dari Opta Analyst menguak pola-pola yang menjadi ciri khas turnamen edisi kali ini, termasuk dominasi set-piece, rendahnya kualitas peluang tim-tim besar, serta fenomena hasil imbang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bosnia dan Herzegovina tampil paling ekstrem dalam memanfaatkan situasi bola mati. Tujuh dari delapan tembakan mereka ke gawang Kanada lahir dari set-piece. Pelatih Sergej Barbarez jelas punya pekerjaan rumah besar: timnya hanya menciptakan satu peluang dari permainan terbuka sepanjang laga. Keberuntungan masih berpihak jika lawan-lawan berikutnya sama borosnya dengan Kanada.
Di sisi lain, Ceko juga menunjukkan senjata andalan yang sudah akrab di mata penggemar Premier League. Mantan bek West Ham, Vladimir Coufal, melemparkan bola panjang ke kotak penalti yang disundul Ladislav Krejci (Wolves) untuk membawa Ceko unggul. Tapi kemewahan Bosnia tetap yang paling menonjol.
Portugal, Spanyol, Swiss, Turki, dan Uruguay mendominasi penguasaan bola dan akurasi umpang di sepertiga akhir lapangan. Kelimanya, kecuali Portugal, bahkan melepaskan setidaknya 25 tembakan. Namun masalahnya ada pada kualitas peluang. Rata-rata xG per tembakan Spanyol hanya 0,08, sedangkan Uruguay (0,06) dan Turki (0,04) bahkan lebih buruk. Angka ini lebih rendah dari rata-rata Burnley dan Wolverhampton di Premier League musim lalu (0,09) — dua tim yang tidak dijadikan tolok ukur permainan menyerang.
Belanda mencatatkan peningkatan xG tertinggi setelah tembakan (post-shot xG) sebesar 1,38 — indikasi penyelesaian akhir yang klinis. Sebaliknya, Jepang menjadi tim dengan xG terendah di antara tim yang mencetak minimal dua gol, meski memiliki 19 sentuhan di kotak penalti lawan. Sementara itu, Swedia menang telak, tapi overachieving terhadap xG sebesar 3,67 gol — angka paling ekstrem di putaran pertama. Pelatih Graham Potter patut bersyukur, namun federasi Tunisia justru memecat Sabri Lamouchi setelah kekalahan, mengabaikan data xG yang mungkin tidak menguntungkan mereka.
Sebanyak sembilan laga berakhir imbang di putaran pertama — proporsi tertinggi dalam sejarah fase grup Piala Dunia. Apakah ini efek format baru yang mengurangi tekanan? Laga yang paling pantas berakhir imbang secara data adalah duel yang mencatatkan xG identik 1,05–1,05. Di kutub lain, kesenjangan finansial sangat terasa: starting XI Jerman dihargai €559,4 juta lebih mahal daripada susunan pemain Curaçao. Opta pun memberi Jerman probabilitas menang 90,7% — dan mereka memenuhinya.
Ekuador membentur tiang gawang tiga kali, sementara Panama melewatkan dua peluang emas (big chances) versi Opta. Data menunjukkan kedua tim pantas imbang hingga menit ke-89. Namun Amad Diallo dan Caleb Yirenkyi memupus harapan itu dengan gol-gol di penghujung laga untuk negara mereka masing-masing. Dua pertandingan ini menjadi pengingat bahwa data tidak pernah menjamin hasil akhir.