Qodari menjelaskan bahwa pemerintah mendorong pemanfaatan energi berbasis bahan baku domestik sebagai solusi jangka panjang. Dua program utama yang disiapkan adalah biodiesel B50 untuk menggantikan solar dan pengembangan campuran etanol E20 untuk bensin.
"Bangsa ini harus mandiri. Bangsa ini harus maju. Lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu kan semua (usaha) Pak Prabowo," kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Keputusan menaikkan harga BBM nonsubsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green, tidak lepas dari kondisi geopolitik global. Qodari menyebut konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, secara langsung mempengaruhi harga minyak dunia.
Posisi strategis Iran yang menguasai Selat Hormuz membuat setiap ketegangan di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap pasar energi. "Kalau soal BBM, faktor dari luar negeri sangat besar karena de facto kita sebagai bangsa ini memang ketinggalan," ujar Qodari.
Meski harga BBM nonsubsidi terpengaruh gejolak global, Qodari menegaskan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi. Ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap kenaikan harga Pertalite.
"Jangan lupa bahwa BBM di kita ini ada dua. Ada yang disubsidi, ada yang harga pasar yang disubsidi kan enggak naik, tetap," ucapnya.
Upaya mencapai kemandirian energi merupakan bagian dari reformasi struktural yang tengah dijalankan pemerintah. Qodari mencontohkan keberhasilan di sektor pangan melalui peningkatan produksi beras dan pupuk, namun mengakui tantangan di sektor energi jauh lebih kompleks.
"Soal energi pasti lebih sulit. Kenapa? Karena memang impor kita sangat besar," katanya. Presiden Prabowo sejak awal menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda utama pemerintahannya, sejalan dengan target mewujudkan ketahanan pangan dan energi secara bersamaan.