GORONTALO — Indonesia adalah pemasok setengah kebutuhan minyak sawit dunia dan eksportir batu bara termal terbesar global. Setiap hari, ribuan transaksi ekspor berlangsung dengan skema harga, spesifikasi kualitas, dan tujuan yang berbeda-beda.
Mulai awal 2027, semua itu akan diatur lewat platform digital yang dibangun Danantara. Komoditas yang masuk daftar tidak tanggung-tanggung: crude palm oil (CPO), RBD palm oil, olein (bahan baku minyak goreng), minyak jelantah, hingga residu sawit. Di sektor batu bara, antrasit, bituminus, lignit, dan gambut ikut diawasi. Ferronikel dan produk ferroalloy juga masuk rezim baru ini.
Pemerintah menyebut sistem ini akan menganalisis seluruh transaksi secara real-time. Harga diharapkan lebih mencerminkan pasar sebenarnya, dan aliran devisa hasil ekspor bisa dipantau ketat.
Pertanyaan besarnya: sanggupkah Danantara mengelola kompleksitas sebesar itu secara efisien? Pengalaman global menunjukkan sentralisasi perdagangan tidak otomatis berarti efisiensi. Jika proses administrasi memanjang, pengambilan keputusan birokratis, atau persetujuan transaksi lambat, biaya perdagangan justru naik.
Para eksportir khawatir daya saing mereka tergerus. Pasar komoditas bergerak cepat — harga batu bara dan CPO berubah setiap jam. Metodologi harga standar yang dijanjikan pemerintah harus cukup fleksibel mengikuti dinamika global. Terlalu kaku, eksportir kehilangan momen harga terbaik. Terlalu longgar, celah under-invoicing kembali terbuka.
Di tengah gencarnya pemerintah menarik investasi hilirisasi dan energi, langkah ini bisa dibaca dua sisi. Investor asing umumnya menyukai kepastian regulasi. Intervensi negara yang lebih dominan dianggap positif jika meningkatkan transparansi. Tapi sebagian lain bisa melihatnya sebagai peningkatan kendali negara atas perdagangan.
Masa transisi hingga akhir 2026 menjadi penentu. Jika Danantara mampu membangun sistem digital yang akurat, mempercepat verifikasi, dan menutup manipulasi harga tanpa beban birokrasi baru, penerimaan negara berpotensi melonjak. Pemerintah juga bakal mendapat data perdagangan komprehensif untuk kebijakan ekonomi ke depan.
Intinya, tujuan kebijakan ini hampir pasti didukung banyak pihak. Yang dipertaruhkan sekarang adalah eksekusi.