BONE BOLANGO — Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo bersama komunitas 1.000 Guru Gorontalo menggelar Program Literasi Rupiah Menyapa Pelosok Negeri bertajuk Ekspedisi Polopalo. Kegiatan berlangsung di SDN 7 Bone, Desa Ilohuuwa, Kabupaten Bone Bolango, daerah dengan keterbatasan akses internet dan sinyal telepon.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, M. Andi Destriyan, menyebut edukasi rupiah selama ini lebih banyak dilakukan di wilayah perkotaan. BI mendorong agar masyarakat di daerah berakses terbatas mendapat kesempatan yang sama.
Menurut Andi, keterbatasan akses bukan alasan menghentikan edukasi. Wilayah yang sulit dijangkau justru menjadi perhatian dalam pelaksanaan program.
"Edukasi cinta bangga paham rupiah ini supaya masyarakat dan anak-anak di daerah pelosok yang aksesnya terbatas memiliki hak dan kesempatan yang sama," ujar Andi.
Ia menambahkan, kondisi medan tidak menyurutkan pelaksanaan kegiatan.
"Walaupun jalannya sulit, internet dan sinyal belum ada, edukasi tetap bisa dijalankan agar siswa dan masyarakat mendapatkan pengetahuan yang sama seperti di wilayah lainnya," katanya.
BI melakukan pemetaan dan survei untuk menentukan sasaran program. Sebanyak empat wilayah diprioritaskan dalam pelaksanaan edukasi di daerah dengan akses terbatas.
Selain menyasar siswa, kegiatan Polopalo melibatkan masyarakat sekitar. Berbagai kegiatan dan perlombaan digelar agar pesan mengenai rupiah tidak hanya diterima anak-anak di sekolah, tetapi juga menjangkau warga.
Bagi BI, mengenal rupiah bukan sekadar mengetahui bentuk dan nilai uang. Lewat CBP Rupiah, masyarakat diajak mencintai rupiah dengan mengenali dan merawatnya.
Masyarakat juga didorong bangga menggunakan rupiah sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta memahami cara menggunakan uang secara bijak.
Pesan itu dibawa hingga ke wilayah yang akses internetnya masih terbatas. Keterbatasan sinyal tidak seharusnya membuat anak-anak di pelosok kehilangan kesempatan mendapatkan pengetahuan yang sama.