GORONTALO — Kenaikan harga ini bukan sekadar isu pasar global, tapi langsung menghantam kantong gamer Indonesia yang selama ini menjadikan Steam Deck atau ROG Ally sebagai opsi masuk ke ekosistem PC gaming. Dengan harga yang kini menembus belasan juta rupiah, daya tarik utama handheld—yaitu fleksibilitas bermain di mana saja—mulai pudar dibandingkan membangun PC desktop.
MSI Claw 8 EX AI+ yang ditenagai chip Intel Arc G3 Extreme kini dibanderol $1.799 (sekitar Rp 29 juta). Padahal pendahulunya, MSI Claw 8 AI+, diluncurkan di harga $899 (sekitar Rp 14,5 juta) sebelum mengalami beberapa kali kenaikan sepanjang 2025.
Lenovo Legion Go 2 mengalami nasib serupa. Handheld dengan layar OLED ini kini dipatok $1.999 (sekitar Rp 32 juta) di Best Buy, lebih mahal dari MSI Claw 8 EX AI+ meski performanya di bawah. Padahal, chip Z2 Extreme yang digunakannya hanya mengandalkan GPU RDNA 3.5, bukan RDNA 4 yang lebih baru.
Valve juga menaikkan harga Steam Deck hingga $300 (sekitar Rp 4,8 juta). Konsekuensinya, konsumen kini harus merogoh kocek minimal $789 (sekitar Rp 12,7 juta) untuk mendapatkan unit baru. Angka ini membuat Steam Deck untuk pertama kalinya sejak 2022 tersingkir dari daftar rekomendasi handheld terbaik.
Di harga tersebut, gamer bisa membeli ROG Ally non-X yang masih dibanderol $599 (sekitar Rp 9,7 juta). Asus justru menjadi satu-satunya produsen yang belum menaikkan harga secara signifikan di pasar AS, meski laporan Windows Central menyebut beberapa region lain sudah terkena dampak.
Akar masalahnya sederhana: biaya modul RAM yang meroket. Dalam sebuah handheld, proporsi biaya RAM terhadap total harga jual jauh lebih besar dibandingkan PC desktop kelas atas. Kenaikan harga 32GB RAM dari $150 menjadi lebih dari $400 (sekitar Rp 6,5 juta) berdampak jauh lebih brutal ke perangkat $800 daripada ke tower $3.000 dengan RTX 5080.
Valve sendiri sebelumnya mengakui sedang menunggu chip "next-generation" yang sesungguhnya untuk Steam Deck 2. Pernyataan ini disampaikan Pierre-Loup Griffais, engineer Valve, di booth Lenovo pada CES 2025. Namun hingga kini, chip yang diharapkan—seperti AMD Z2 Extreme—belum memberikan lompatan performa signifikan, hanya mengandalkan arsitektur lama dengan efisiensi daya lebih baik.
Tiga produsen RAM terbesar dunia dikabarkan sudah menjual habis kapasitas produksi mereka hingga 2027. Artinya, harga memori tidak akan turun dalam waktu dekat. Jika tren ini berlanjut, posisi handheld sebagai perangkat sekunder yang "terjangkau" akan hilang total.
Padahal, daya tarik utama perangkat seperti Steam Deck justru terletak pada harganya yang masuk akal untuk bermain game indie dan judul AAA dengan setting rendah. Ketika harga mendekati angka $1.000, ekspektasi konsumen otomatis naik ke level performa yang tidak bisa dipenuhi perangkat seukuran genggam.
Jika krisis ini berlanjut, bukan tidak mungkin Lenovo, Asus, atau MSI mulai mempertimbangkan ulang keberlanjutan lini produk handheld mereka. Untuk gamer Indonesia yang selama ini menabung untuk membeli perangkat ini, saran paling realistis adalah memantau harga pasar lokal dan mempertimbangkan opsi refurbished atau open-box sebelum harga semakin tidak masuk akal.