GORONTALO — Wakil Menteri ESDM Yuliot menargetkan PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, beroperasi menyambut Natal dan Tahun Baru 2026/2027. Penggenangan waduk dimulai sebagai syarat uji seluruh fasilitas pembangkit. Tambahan daya ini menopang kelistrikan Sumatera Utara yang cadangan operasionalnya hanya 4 persen.
Paragraf pembuka: Penggenangan Waduk PLTA Batang Toru menjadi penanda masuknya tahap akhir proyek strategis nasional senilai Rp21,6 triliun tersebut. Seluruh kegiatan penggenangan dipercepat pada triwulan IV 2026, disertai uji coba instrumen selama dua pekan sebelum pembangkit diuji masuk ke jaringan PLN. Proyek ini dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dan terdiri atas empat unit pembangkit masing-masing 127,5 MW.
Yuliot menyebut kebutuhan listrik biasanya melonjak saat Natal dan Tahun Baru, sementara cadangan operasional sistem kelistrikan Sumatera masih jauh dari ideal. "Cadangan operasional hanya 4 persen. Idealnya kan sekitar 15 sampai 20 persen," kata Yuliot dikutip dari laman Kementerian ESDM, Sabtu (10/10/2026).
Saat ini sistem Sumatera bagian utara masih ditopang pasokan dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi. Pertumbuhan beban Sumatera Utara mencapai sekitar 100-120 MW per tahun, sehingga tambahan 510 MW dari Batang Toru diperkirakan menopang kebutuhan provinsi itu hingga empat sampai lima tahun ke depan.
Yuliot menjelaskan penggenangan menjadi syarat untuk menguji seluruh fasilitas pembangkit, mulai dari powerhouse, ketinggian genangan sesuai target, hingga penyaluran daya ke jaringan transmisi. "Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini," ujarnya.
Setelah uji coba instrumen rampung, pembangkit akan diuji untuk masuk ke jaringan PLN sebelum resmi beroperasi. "Dari Kementerian ESDM tinggal memastikan bisa berjalan baik. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat laik operasi," tambah Yuliot.
Penggenangan baru dapat dilaksanakan setelah seluruh persoalan administrasi diselesaikan, termasuk kewajiban kepada Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH dan Kementerian Kehutanan. Penyelesaian itu dikawal bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Kementerian Kehutanan, dan Kejaksaan Agung.
Dukungan lintas kementerian dan lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi dalam kerangka Asta Cita Presiden. Pasokan air PLTA Batang Toru dinilai lebih stabil karena hulu sungainya terhubung dengan Danau Toba, sehingga di tengah kondisi El Nino sumber airnya dinilai lebih dari cukup dibandingkan PLTA lain.
Yuliot memastikan sebagian besar pekerja proyek merupakan tenaga lokal, dan peralatan dalam negeri dimanfaatkan sejauh memungkinkan. NSHE juga telah menyiapkan kajian pengembangan tahap kedua berkapasitas 160 MW.
Dengan dimulainya penggenangan, PLTA Batang Toru selangkah lagi menjadi penopang baru kelistrikan Sumatera Utara. Proyek ini tidak hanya memperkuat keandalan sistem setempat, tetapi juga mengurangi ketergantungan pasokan dari Sumatera bagian selatan sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.