GORONTALO — PT Pertamina Hulu Energi menyiapkan anak usaha khusus bisnis penyimpanan karbon yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Direktur Keuangan PHE Bayu Kusuma Dewanto menyebut pembentukan entitas itu masih dalam tahap pengurusan perizinan.
"Kita sedang urus perizinannya. Insya Allah mungkin di dua atau tiga tahun lagi, kita sudah bisa melihat perusahaan ini bekerja," kata Bayu di Jakarta, Selasa (6/10).
PHE merupakan pemilik wilayah kerja terbanyak di Indonesia dengan jumlah reservoir yang melimpah. Kondisi itu dinilai membuka peluang besar untuk mengembangkan bisnis penangkapan dan penyimpanan karbon, baik di dalam negeri maupun lintas negara.
Sejumlah perusahaan, terutama dari Singapura, sudah dijajaki PHE sebagai calon mitra. Bayu menilai pasar karbon di Singapura cukup besar untuk ditangkap, sementara Indonesia punya wilayah-wilayah yang potensial sebagai lokasi penyimpanan.
"Penjajakan awal sudah kita lakukan dengan beberapa perusahaan, terutama di Singapura. Di sana pasar karbon cukup besar untuk bisa kita capture. Sedangkan di sini kita juga punya wilayah-wilayah yang menurut saya sangat potensial untuk ini," ujarnya.
Skema yang dijajaki adalah menangkap karbon dari perusahaan di Singapura, lalu mengelolanya dan menyimpannya di wilayah Indonesia yang memiliki potensi penyimpanan karbon. Model itu membuka peluang pengembangan CCS/CCUS lintas negara, terutama dengan memanfaatkan lokasi penyimpanan yang tersedia di Tanah Air.
Bayu mengakui tantangan utama pengembangan CCS/CCUS saat ini bukan soal teknologi, melainkan keekonomian. Biaya pengelolaan karbon masih menjadi pertimbangan berat bagi perusahaan yang punya kewajiban mengurangi emisi.
Perusahaan yang mengalami defisit karbon, kata Bayu, sebenarnya punya beberapa pilihan. Mereka bisa membeli kredit karbon di bursa, membayar pajak karbon, atau membangun fasilitas CCS/CCUS sendiri.
"Kalau misalnya saya karbon defisit, saya mengelola sebuah perusahaan karbon defisit, pilihannya kan apakah saya akan beli karbon di bursa, atau saya bikin proyek CCS/CCUS sendiri. Nah hari ini secara akal memang lebih murah beli," ujarnya.
Kondisi itu membuat bisnis CCS/CCUS belum kompetitif secara biaya. Bayu menyebut hal tersebut sebagai persoalan yang perlu dipecahkan bersama agar keekonomian proyek penangkapan karbon lebih menarik.
"Sekarang ini kan masih lebih murah kalau kita beli karbon saja. Atau ya sudah kita bayar carbon tax. Nah, itu yang masih perlu kita pecahkan bareng-bareng tentang keekonomian CCS/CCUS ini," jelasnya.
Meski keekonomian masih jadi ganjalan, Bayu melihat potensi bisnis CCS/CCUS akan sangat besar begitu momentum pasar dan kebutuhan terbentuk. PHE pun menargetkan anak usaha yang tengah dipersiapkan dapat terlihat menjalankan kegiatan bisnisnya sekitar 2028.
"Semoga 2028 kita sudah bisa melihat mereka beroperasi," pungkasnya.
Langkah PHE ini menjadi salah satu ujian bagi Indonesia dalam membangun ekosistem karbon yang mandiri. Selama biaya membeli kredit karbon di bursa masih lebih murah ketimbang membangun fasilitas sendiri, bisnis penyimpanan karbon dalam negeri akan bergantung pada seberapa cepat insentif dan kerangka regulasi rampung.