GORONTALO — Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Muhammad Sulthon kembali menyerok 90.000 lembar saham pada 2 Oktober 2026 di harga Rp545 per saham, menambah kepemilikannya menjadi 310.500 lembar. Aksi jajaran direksi BRMS ini berlangsung di tengah percepatan pengembangan tambang emas bawah tanah di Palu yang ditargetkan beroperasi pertengahan 2027.
Pembelian terbaru Sulthon dilakukan hanya sehari setelah ia memborong 180.500 saham dalam tiga tahap pada 1 Oktober 2026, dengan harga rata-rata Rp545 hingga Rp565 per lembar. Sebelumnya, pada 28 September 2026, ia juga membeli 40.000 saham di harga Rp640. Dalam keterbukaan informasi kepada OJK, Sulthon menyatakan tujuan pembelian saham tersebut murni untuk investasi.
Langkah itu melengkapi rangkaian akumulasi yang dilakukan jajaran direksi BRMS dalam dua tahun terakhir. Tercatat empat direksi telah mengumpulkan lebih dari 5,2 juta saham perseroan.
Selain Sulthon, Direktur BRMS Adika Aryasthana Bakrie memborong 750.500 saham pada 22 September 2026 di harga Rp665 per lembar. Nama lain yang tercatat melakukan akumulasi adalah Adrian Wicaksono, Charles Daniel Gobel, dan Herwin Wahyu Hidayat.
Manajemen BRMS menyatakan akumulasi saham oleh direksi mencerminkan keyakinan terhadap prospek pertumbuhan perusahaan. Pola serupa jarang terjadi di emiten tambang lain, di mana direksi umumnya menahan posisi saat harga komoditas berfluktuasi.
Keyakinan direksi bertumpu pada proyek tambang emas bawah tanah di Palu, Sulawesi Tengah. BRMS tengah mengebut pengembangan proyek dengan kadar emas tinggi 3,5 hingga 4,9 gram per ton tersebut.
Kapasitas pabrik pengolahan juga ditingkatkan secara agresif, dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.
Peningkatan kapasitas empat kali lipat itu menjadi penentu arah kinerja BRMS dalam beberapa tahun ke depan. Jika berjalan sesuai jadwal, volume produksi emas perseroan berpotensi melonjak seiring naiknya kapasitas olah bijih harian.
Akumulasi saham oleh direksi kerap dibaca pasar sebagai sinyal positif. Manajemen dinilai memiliki informasi paling lengkap soal kondisi internal perusahaan, sehingga pembelian mereka dianggap cerminan optimisme terhadap harga saham ke depan.
Namun, aksi korporasi ini tetap perlu dibaca bersama faktor lain, seperti harga emas global, progres konstruksi proyek Palu, dan realisasi target produksi. Investor ritel disarankan mencermati laporan kinerja kuartalan BRMS untuk memastikan ekspansi berjalan on track.
Dengan kepemilikan direksi yang terus menebal, BRMS berada di posisi menarik: pasar menanti bukti bahwa proyek emas Palu benar-benar menjadi mesin pertumbuhan baru, bukan sekadar janji di atas kertas.