GORONTALO — Bendera setengah tiang berkibar di kantor-kantor pemerintahan Nepal sejak pagi. Momen ini bertepatan dengan hari ke-13 pasca-bencana, sebuah angka yang sakral bagi umat Hindu yang mayoritas mendiami Nepal. Ritual berkabung selama 13 hari itu ditutup dengan doa bersama untuk arwah para korban, sebuah tradisi yang diyakini mengantarkan jiwa menuju alam berikutnya.
Duka berkepanjangan justru dirasakan keluarga korban yang belum menemukan kerabatnya. Mereka mendesak pemerintah mempercepat proses pencarian, terutama di wilayah terdampak yang masih sulit diakses tim penyelamat.
Tim gabungan penyelamat memusatkan operasi di 12 proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang ikut tersapu bencana. Lokasi ini menjadi prioritas karena menyimpan korban terbanyak—sekitar 900 pekerja dilaporkan hilang dan 500 lainnya masih terjebak di berbagai terowongan proyek.
Medan berbukit dan infrastruktur yang hancur menjadi tantangan terbesar. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses, sementara tim penyelamat bersusah payah menembus material longsor yang menutupi pintu masuk terowongan.
Hingga kini, belum ada kepastian jumlah pasti korban selamat di dalam terowongan. Keluarga pekerja proyek yang menanti kabar di luar lokasi bencana hidup dalam kecemasan yang tak menentu.
Bencana ini dipicu hujan ekstrem yang mengguyur kawasan Himalaya selama berhari-hari. Tanah yang jenuh air akhirnya longsor dan memicu banjir bandang yang menghancurkan pemukiman serta infrastruktur di sepanjang aliran sungai, baik di Nepal maupun wilayah Tibet yang berbatasan langsung.
Data pemerintah mencatat total korban tewas gabungan mencapai 1.300 jiwa. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berjalan di lokasi-lokasi terpencil.
Pemerintah Nepal berjanji mempercepat proses pencarian dan penyelamatan. Namun, keluarga korban menginginkan aksi yang lebih nyata, bukan sekadar janji. Mereka membutuhkan kepastian—apakah kerabat mereka masih hidup atau telah menjadi bagian dari korban yang belum teridentifikasi.
Operasi penyelamatan di 12 proyek PLTA menjadi penentu utama. Setiap jam yang berlalu, harapan menemukan korban selamat semakin menipis. Namun tim penyelamat menegaskan tidak akan menghentikan upaya hingga semua lokasi terdampak berhasil dijangkau.
Bencana ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern Nepal. Negara yang terletak di antara dua raksasa ekonomi, India dan China, ini kini menghadapi tantangan rekonstruksi yang diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun.