Menteri PU Dody Hanggodo Percepat Pemulihan SPAM Pascagempa NTT 7,7 SR dan Pastikan Pasokan Air Bersih ke Warga Terdampak

Penulis: Fandi Setiawan  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:20:48 WIB
Menteri PU Dody Hanggodo meninjau proses percepatan pemulihan jaringan SPAM di Kabupaten Ende pascagempa 7,7 SR di NTT.

JAKARTA — Badan geologi mencatat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu menjadi pemicu utama rusaknya sejumlah infrastruktur vital di wilayah tersebut. Salah satu yang paling dirasakan dampaknya adalah jaringan distribusi air bersih bagi masyarakat.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memastikan bahwa pemulihan infrastruktur dasar, terutama layanan air minum dan sanitasi, menjadi prioritas utama dalam masa tanggap darurat.

"Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani. Karena itu, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, termasuk sarana air bersih dan sanitasi, harus segera kita cek dan tangani sesuai kondisi di lapangan," kata Menteri Dody Hanggodo.

Kementerian PU melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPBPK) NTT langsung turun ke lapangan untuk memeriksa sarana dan prasarana air minum di tiga kabupaten yang paling terdampak, yaitu Nagekeo, Ende, dan Sikka. Fokus pemeriksaan meliputi Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi, hingga tampungan air yang ada di masyarakat.

Salah satu titik yang langsung diperbaiki adalah jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende. Kerusakan di titik tersebut sempat mengganggu distribusi air bersih, namun berkat kerja sama dengan PDAM Kabupaten Ende, perbaikan berlangsung sejak 16 Agustus dan selesai pada malam 17 Agustus 2026.

Dukungan Tim dan Peralatan untuk Percepatan Penanganan

Untuk memastikan pendataan dan perbaikan berjalan optimal, Kementerian PU juga mengerahkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Tugas mereka adalah melakukan inventarisasi kerusakan sekaligus langsung menangani sarana yang terganggu agar operasional kembali normal.

Sebanyak 10 personel tambahan juga diberangkatkan dari Kupang untuk memperkuat tim di Maumere, Ende, dan Nagekeo. Mereka akan mengecek kondisi sarana dan mengidentifikasi kebutuhan lanjutan di masing-masing lokasi.

Di Kabupaten Nagekeo, sebanyak 3 unit Mobil Tangki Air (MTA) telah dikerahkan, dengan rincian 2 unit MTA sudah berada di lokasi dan 1 unit MTA pinjam pakai yang sebelumnya dipakai untuk penanganan banjir Mauponggo.

Selain itu, sebanyak 16 unit Hidran Umum (HU) siap digunakan, dengan 8 unit merupakan dukungan yang tersedia dan 8 unit lainnya bersifat pinjam pakai. Di Kupang, Kementerian PU juga menyiagakan 2 unit mobil tangki air dan 1 unit truk tinja.

Menteri PU Dody menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara bertahap dengan skala prioritas berdasarkan hasil pemeriksaan langsung di lapangan.

"Kami akan terus lakukan pengecekan dan inventarisasi di lapangan supaya penanganannya tepat sasaran. Kalau sumber air dan jaringan masih bisa difungsikan, kami optimalkan. Kalau belum, kita siapkan alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan layanan air bersih selama masa tanggap darurat," jelas Dody Hanggodo.

Lebih lanjut, Kementerian PU akan terus melakukan inventarisasi pos-pos pengungsian untuk memastikan kebutuhan air bersih dan sanitasi dapat cepat dipenuhi. Jika diperlukan, mobilisasi peralatan akan didatangkan dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya.

Pemenuhan air bersih juga akan memaksimalkan SPAM atau PDAM selama jaringan masih berfungsi. Apabila jaringan perpipaan rusak atau belum beroperasi, dukungan berupa mobil tangki, hidran umum, tampungan air, dan sarana lain akan disalurkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Reporter: Fandi Setiawan
Back to top