GORONTALO — Keputusan itu diambil Santos di tengah badai cedera, performa tim yang naik turun, dan kehilangan sosok penting di skuad Singo Edan. Bagi pelatih berusia 47 tahun tersebut, menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai menjadi prioritas utama.
"Ini kerja keras, kerja sulit, kita mengembalikan jiwa Arema. Berat sekali tapi pemain kerja keras," kata Santos dalam pernyataan yang dikutip dari laporan media setempat.
Santos menjadi figur yang banyak disorot bukan hanya karena racikan taktiknya, tetapi juga keteguhannya bertahan di tengah situasi yang tidak mudah. Ia menegaskan bahwa kebanggaan terbesarnya adalah memulai dan menyelesaikan musim ini bersama Arema FC.
"Untuk saya sebuah kebanggaan musim ini mulai dan selesai di Arema FC," ucap pelatih asal Brasil itu.
Selama bekerja di Indonesia, Santos mengaku banyak belajar. Pengalaman bersama Arema FC, menurutnya, bukan sekadar soal sepak bola, tetapi juga tentang nilai kehidupan.
"Kita yang datang dari luar negeri banyak belajar dari kalian di Indonesia; rendah hati, kesederhanaan," imbuhnya.
Santos menyebut Arema FC memiliki ikatan emosional yang berbeda dibanding klub lain. Ia membandingkan klub berjuluk Singo Edan ini dengan klub-klub besar di Brasil.
"Arema bukan sekadar tim, Arema adalah keluarga yang melibatkan kota Malang. Di Brasil, Arema itu seperti Corinthians atau Palmeiras yang harus selalu bertarung di atas," pungkasnya.
Setelah kompetisi berakhir, Santos memilih kembali ke Brasil sambil menunggu keputusan manajemen terkait masa depannya di Malang. Ia tidak menutupi harapannya untuk melanjutkan pekerjaannya bersama Arena FC.
"Amin, semoga saja begitu. Saya mau berterima kasih kepada Bos Iwan, seluruh manajemen, Inal, Oye, Claudio yang kerja luar biasa," ujar Santos.
Keputusan soal perpanjangan kontrak pelatih asal Brasil itu kini sepenuhnya berada di tangan manajemen Arema FC. Dengan fondasi kebangkitan tim yang mulai terbangun, pilihan untuk mempertahankan Santos bisa menjadi langkah strategis Singo Edan menuju musim depan.