GORONTALO — Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat 1,03 persen secara mingguan pada perdagangan yang berakhir Jumat (23/10/2026), menandai kenaikan tiga pekan berturut-turut. Penguatan ditopang lonjakan ekspor Malaysia, permintaan menjelang festival di India, serta prospek pengetatan pasokan akibat El Niño dan rencana mandatori biodiesel B50 Indonesia.
Kontrak berjangka CPO ditutup naik 0,54 persen menjadi 4.828 ringgit Malaysia per ton pada Jumat (23/10/2026). Angka itu melengkapi penguatan mingguan sebesar 1,03 persen, sekaligus memastikan harga minyak sawit mentah bertahan di jalur hijau selama tiga pekan beruntun.
Penguatan terjadi di tengah kenaikan harga minyak nabati pesaing. Pasar juga merespons positif prospek pengetatan pasokan global yang dipicu kondisi El Niño parah, ditambah rencana Indonesia menerapkan mandatori biodiesel B50.
Data surveyor kargo yang dikutip Trading Economics menunjukkan pengiriman minyak sawit Malaysia pada 1-20 Oktober melonjak 58,5-78,4 persen dibandingkan periode yang sama pada September. Lompatan itu menjadi sinyal permintaan global yang masih kuat di tengah kekhawatiran pelemahan ekonomi.
Malaysia merupakan produsen CPO terbesar kedua dunia setelah Indonesia. Kinerja ekspornya kerap dipakai pasar sebagai barometer permintaan minyak sawit di pasar internasional.
Permintaan tambahan datang dari India, salah satu importir minyak sawit terbesar dunia. Pembelian menjelang musim festival mendorong kebutuhan stok di negara itu naik, sehingga turut menopang harga CPO di bursa Malaysia.
India secara rutin meningkatkan impor minyak nabati sebelum rangkaian festival akhir tahun. Pola musiman ini memberi bantalan tambahan bagi harga CPO yang sedang bergerak naik.
Kondisi El Niño yang parah menjadi faktor pasokan yang perlu dicermati. Cuaca kering berkepanjangan berpotensi menekan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia, sehingga stok global bisa menipis dalam beberapa bulan ke depan.
Dari sisi permintaan domestik, rencana penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia menambah kebutuhan CPO untuk bahan baku energi. Program ini memperbesar konsumsi dalam negeri dan pada akhirnya mengurangi volume yang tersedia untuk ekspor.
Kombinasi pasokan yang terancam dan permintaan yang meningkat membuat pasar CPO masih punya ruang penguatan. Bagi petani sawit dan pelaku industri hilir di Indonesia, tren tiga pekan terakhir menjadi sinyal positif setelah harga sempat tertekan.
Namun pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan cuaca dan realisasi kebijakan B50. Dua faktor itu akan menentukan apakah reli harga CPO berlanjut atau berhenti di pekan keempat.