GORONTALO — Fran Kirby mengaku stres dan kecewa dengan kepergian mendadak pelatih kepala Brighton, Dario Vidosic, sembilan hari sebelum musim Women's Super League bergulir. Penyerang timnas Inggris itu menyebut Brighton harus menghadapi Arsenal tanpa satu pun sesi latihan bersama pelatih baru, Arturo Ruiz.
Vidosic meninggalkan Brighton pada 28 Agustus, sembilan hari sebelum laga pembuka melawan Arsenal. Pada hari yang sama, manajemen klub menunjuk Arturo Ruiz, yang sebelumnya menangani Real Sociedad, sebagai pengganti.
Kepergian Vidosic terjadi setelah ia membawa Brighton ke final Piala FA pertama dalam sejarah klub pada Mei lalu. Di ajang Women's Super League, ia menutup musim dengan posisi kelima dan ketujuh, capaian terbaik Brighton di kompetisi tersebut.
Kirby mengungkapkan reaksinya saat mendengar kabar kepergian Vidosic dalam wawancara dengan podcast Women's Football Weekly. Hubungannya dengan pelatih asal Australia itu dinilainya berjalan sangat baik.
"Itu tidak mudah ketika saya mendengarnya. Saya cukup kecewa," kata Kirby. "Saya punya hubungan yang sangat baik dengan Dario dan menurut saya dia pelatih fantastis yang bisa meraih hal-hal luar biasa di klub-klub top."
Namun, lanjut Kirby, situasi menjadi rumit karena Brighton sudah ditunggu Arsenal sementara sang pelatih baru belum sempat memimpin satu sesi latihan pun. "Saya stres," ujarnya.
Brighton kalah dari Arsenal di laga pembuka musim. Hasil itu menjadi satu-satunya kemenangan Arsenal sejauh ini di WSL. Di bawah Ruiz, Brighton melewati empat pertandingan liga pertama tanpa kemenangan, termasuk kehilangan poin melawan Birmingham City dan Aston Villa.
Dua kemenangan di Piala Liga memberi napas baru. Sebelum jeda internasional, Brighton berpesta lima gol tanpa balas ke gawang Charlton Athletic yang baru promosi. Kemenangan itu menjadi kemenangan pertama Ruiz di kompetisi domestik Inggris.
"Kami sadar ini awal yang berat," kata Kirby. "Mendatangkan pelatih begitu terlambat dan mencoba beradaptasi dengan gaya mainnya bukan hal mudah, apalagi menjelang musim dimulai."
Di era Vidosic, Brighton dikenal sebagai tim yang mendominasi penguasaan bola. Hanya Arsenal, Chelsea, dan Manchester City yang rata-rata menguasai bola lebih banyak per pertandingan pada musim pertama Vidosic. Brighton juga tercatat paling banyak melakukan pelanggaran dan mengumpulkan kartu kuning terbanyak di WSL 2024-25 dan 2025-26.
Jurnalis sepak bola perempuan Annabel Bassett dari The Brighton Base menilai Ruiz membawa perubahan. "Dia banyak bicara soal menetralisir lawan. Dia suka merebut bola tinggi dan ancaman utama mereka ada di sayap untuk membuka ruang di tengah," kata Bassett.
Kirby merasakan pergeseran itu. Brighton tetap ingin menguasai bola, tetapi kini dituntut lebih cepat menyerang. "Sebelumnya ada momen di mana kami terlalu banyak mengolah bola padahal bisa langsung maju," ujarnya.
Brighton akan bertandang ke markas juara bertahan Manchester City pada laga berikutnya. City menyapu bersih lima pertandingan WSL musim ini dan sedang mencatat 15 kemenangan kandang beruntun, rekor klub.
Laga itu menjadi pertemuan pertama kedua tim sejak City menang 4-0 di final Piala FA pada Mei. "Mereka tim berkualitas. Satu pemain bisa dinetralisir, tapi masih ada dua atau tiga lainnya," kata Kirby.
Ruiz sendiri yakin metode kerjanya mulai diterima skuad. "Saya sangat senang dengan performa dan kerja keras yang kami lakukan. Kami bisa saja meraih lebih banyak poin, tapi awal musim memang sulit tanpa waktu membangun identitas," kata Ruiz kepada BBC Sport.