BP BUMN Minta Perum LKBN ANTARA Tingkatkan Perlindungan Jurnalis Usai Insiden Selat Sunda

Penulis: Feri Andika  •  Jumat, 25 September 2026 | 23:30:01 WIB
Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata meminta Perum LKBN ANTARA meningkatkan perlindungan bagi jurnalis.

Badan Pengaturan BUMN meminta Perum LKBN ANTARA meningkatkan perhatian dan perlindungan bagi jurnalis, menyusul hilangnya kontak rombongan pewarta saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Permintaan itu disampaikan Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata dalam acara penyerahan tali asih kepada keluarga korban erupsi di Gedung BP BUMN Jakarta. Tedi menyebut jurnalis sebagai darahnya ANTARA karena pemberitaan merupakan inti bisnis perusahaan.

JAKARTA — Wakil Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Tedi Bharata meminta Perum LKBN ANTARA meningkatkan perhatian kepada jurnalis. Permintaan itu muncul setelah insiden hilangnya kontak rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Tedi menilai kejadian tersebut menjadi pengingat tingginya risiko pekerjaan jurnalis.

Dalam acara penyerahan tali asih kepada keluarga korban erupsi Gunung Anak Krakatau di Gedung BP BUMN Jakarta, Tedi menyampaikan bahwa jurnalis adalah bagian inti dari bisnis ANTARA. Ia meminta agar perlindungan dan perhatian terhadap pewarta terus ditingkatkan ke depannya.

Jurnalis Dinilai Berjuang dengan Penuh Pengorbanan

Tedi menuturkan, untuk menghasilkan artikel yang dibaca masyarakat, foto jurnalistik yang disaksikan publik, hingga konten jurnalistik lainnya, para jurnalis berjuang dengan tidak mudah. Menurutnya, banyak pembaca yang tidak menyadari besarnya risiko di balik setiap karya jurnalistik.

"Artikel yang kita baca, foto jurnalis yang kita lihat, yang kadang kita asal swipe, itu ternyata membuatnya tidak mudah. Penuh pengorbanan, ada perjalanan, ada risiko yang menjadi pengingat bahwa apa yang dilakukan oleh jurnalis bukan sesuatu yang mudah," kata Tedi.

Ia juga memandang jurnalis sebagai mitra dari BUMN. Media berperan menyampaikan berita yang akurat dan menginformasikan kepada publik tentang transformasi BUMN yang saat ini dijalankan BP BUMN bersama Danantara.

"Program transformasi ini tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa peran dari teman-teman jurnalis yang memberitakan. Ke depan, hubungan antara BUMN, keluarga besar BUMN dengan jurnalis tentunya kami harapkan akan semakin erat," ucap Tedi.

BP BUMN Sebut Standar Perlindungan Sudah Ada

Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan BP BUMN Hambra menyatakan BUMN sudah memiliki standar terkait kesejahteraan maupun perlindungan bagi jurnalis. Ia merujuk kepada Perum LKBN ANTARA sebagai BUMN yang bergerak di sektor pemberitaan.

"Ini akan menjadi perhatian, akan menjadi perhatian. Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa risiko pewarta dalam meliput berita-berita yang tingkat risikonya tinggi, harus mendapat perhatian dari sisi perlindungan yang lebih baik," ujar Hambra.

Delapan Orang Hilang Kontak di Selat Sunda

Sebanyak delapan orang rombongan kapal cepat KM Arupadatu I dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9) siang pukul 14.00 WIB. Rombongan itu terdiri atas lima jurnalis, yaitu M Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro dari iNews, Firdaus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis lepas.

Tiga orang lainnya adalah Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Mereka dilaporkan hilang kontak pada waktu yang sama.

Identitas Satu Korban Terungkap dari Uji DNA

Pada Sabtu (12/9), Basarnas Bengkulu menerima laporan penemuan mayat tanpa identitas di kawasan Pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Kepolisian Daerah Banten kemudian mengungkapkan pada Rabu (23/9) bahwa hasil pencocokan DNA antara sampel antemortem dan jenazah di Pulau Enggano identik dengan identitas Surakman atau Sukarman (60).

Permintaan perlindungan dari BP BUMN menyusul insiden tersebut menjadi sorotan soal keselamatan pewarta saat meliput peristiwa berisiko tinggi. Perum LKBN ANTARA sebagai BUMN sektor pemberitaan disebut akan menjadi perhatian utama dalam pembenahan standar perlindungan jurnalis ke depan.

Reporter: Feri Andika
Sumber: gorontalo.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top