GORONTALO — Polri tak lagi sekadar mengawal distribusi bantuan pangan. Dalam laporan kepada Presiden Prabowo Subianto pada peringatan HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan institusinya telah memanen jagung sebanyak 5,7 juta ton. Capaian itu berasal dari lahan potensial yang dikelola bersama 30.548 kelompok tani.
"Hingga kuartal II 2026 telah dilaksanakan panen raya dengan total produksi mencapai 5,7 juta ton," kata Listyo di Satlat Brimob Polri, Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7).
Di luar jagung, Polri juga memfasilitasi pengembangan bawang putih di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Sebanyak 30 kelompok tani mengelola lahan 948 hektare dengan hasil panen mencapai 18.960 ton. Komoditas serupa juga dikembangkan di Karanganyar, Temanggung, Lampung Barat, dan Tanggamus dengan total lahan 127,5 hektare.
Pendekatan teknologi mulai diterapkan. Polri mendorong penggunaan benih unggul, pupuk organik presisi berbahan enceng gondok, hingga alat pengering hasil panen mobile rotary dryer. Limbah tongkol jagung diolah menjadi briket, sementara pupuk berbasis batu bara diklaim mampu memperbaiki tingkat keasaman tanah dan memulihkan unsur hara.
Untuk menunjang penyimpanan, Polri telah membangun 29 gudang ketahanan pangan. Kapolri menambahkan, pihaknya juga memfasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui bank-bank Himbara. Pendampingan dilakukan mulai dari pemanfaatan lahan produktif hingga program pekarangan pangan bergizi.
Kolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah disebut menjadi kunci menjaga ketersediaan pangan di tengah tekanan global. "Ketidakpastian akibat perubahan iklim, perang dagang, disrupsi teknologi, dan konflik geopolitik menjadi tantangan yang harus direspons bersama," ujar Listyo.
Polri menegaskan akan terus memperluas pendampingan ke komoditas strategis lainnya. Langkah ini sejalan dengan target swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah saat ini.