GORONTALO — Data NJKB DKI Jakarta untuk tahun 2026 mencatatkan sebuah kode misterius: JG6AEVZZE. Nominal yang dibubuhkan, Rp 257 juta, langsung memicu spekulasi di kalangan pengamat otomotif. Angka itu diyakini sebagai harga dasar Honda Super One, mobil listrik yang selama ini hanya tampil sebagai konsep di berbagai pameran internasional.
Langkah administratif PT Honda Prospect Motor (HPM) ini menandakan bahwa kendaraan listrik mungil tersebut tak lagi sekadar pajangan. Pabrikan asal Jepang itu mulai serius mengisi celah segmen EV city car yang hingga kini masih sepi pemain.
Berbeda dengan mobil kei car khas Jepang seperti Honda N-One e:, Super One dirancang dengan dimensi yang lebih lapang untuk pasar global. Dapur pacunya mengandalkan motor listrik depan berkekuatan 93 dk (70 kW) dan torsi instan 162 Nm.
Honda menyematkan fitur yang jarang ditemui di mobil listrik: sistem simulasi transmisi 7-percepatan yang dipadukan dengan Active Sound Control. Fitur ini memberi sensasi perpindahan gigi dan suara mesin buatan, mirip mobil sport konvensional. Tersedia pula Boost Mode untuk akselerasi tambahan saat dibutuhkan.
Untuk menopang mobilitas harian, Honda Super One dibekali baterai berkapasitas sekitar 29,6 kWh. Berdasarkan siklus WLTP, jarak tempuhnya diperkirakan mencapai hampir 295 kilometer dalam sekali pengisian penuh.
Soal pengisian daya, teknologi DC Fast Charging memungkinkan baterai terisi dari 20 persen hingga 80 persen hanya dalam 30 menit. Angka ini cukup kompetitif untuk segmen city car listrik yang mengutamakan efisiensi waktu.
Meski bertubuh ringkas, kabin Super One mengusung konsep minimalis modern. Joknya dibalut kulit parsial, sementara sistem hiburan mengandalkan layar sentuh 9 inci Display Audio yang terhubung dengan audio premium Bose 8-speaker.
Dari sisi keselamatan, Honda membenamkan paket fitur aktif Honda Sensing. Sistem ini mencakup pengereman otonom, peringatan keberangkatan jalur, dan kontrol jelajah adaptif—fitur yang jarang ditemukan di mobil listrik sekelasnya.
Di pasar domestik Jepang, model ini dibanderol sekitar Rp 340 jutaan. Namun, dengan NJKB Jakarta yang hanya Rp 257 juta (sebelum pajak dan biaya lainnya), harga jual resmi di Indonesia diprediksi bisa lebih rendah.
Jika pemerintah memberikan insentif pajak untuk kendaraan listrik, bukan tidak mungkin Honda Super One akan menjadi pemain dominan di segmen EV massal. Harganya yang kompetitif berpotensi mengulang kesuksesan Honda Brio di era mobil konvensional.