Petani Bongomeme Gorontalo Gempur Hama Tikus di 23 Hektar Sawah

Penulis: Feri Andika  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 15:48:54 WIB
Petani Bongomeme bersama Balintan Gorontalo lakukan pengendalian hama tikus di 23 hektar sawah.

KABUPATEN GORONTALO — Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Nyiur Hijau di Desa Bongomeme, Kecamatan Dungaliyo, melakukan aksi massal untuk menekan populasi hama tikus pada Selasa (6/5/2025). Langkah proaktif ini dilakukan guna memitigasi risiko kerusakan yang lebih luas pada lahan pertanian produktif seluas 23 hektar yang mulai terdampak serangan.

Balai Perlindungan Tanaman Pertanian (Balintan) Provinsi Gorontalo menginisiasi kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) sekaligus Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Meski tingkat serangan saat ini masih dalam kategori ringan hingga sedang, intervensi dini dianggap krusial agar hama tidak meluas saat mendekati masa panen.

Mengapa Pengendalian Tikus di Dungaliyo Harus Dilakukan Serentak?

Koordinator POPT Kabupaten Gorontalo, Aman Mootalu, S.P., menekankan bahwa pola perkembangbiakan tikus yang sangat cepat menjadi ancaman serius bagi produktivitas padi. Jika pengendalian dilakukan secara parsial atau hanya di satu titik lahan, tikus akan dengan mudah berpindah ke area lain yang belum tersentuh pembersihan.

“Kalau tidak dikendalikan bersama-sama, tikus akan terus berkembang. Karena itu pengendalian harus dilakukan serentak agar hasilnya benar-benar efektif,” jelas Aman Mootalu di sela-sela kegiatan lapangan.

Sinergi antarpetani dalam satu hamparan menjadi kunci utama. Dengan melakukan gempuran serentak, ruang gerak hama menjadi terbatas dan populasi dapat ditekan secara signifikan sebelum mencapai ambang batas ekonomi yang merugikan.

Teknik Aplikasi Rodentisida: Hindari Aroma Manusia pada Umpan

Dalam sesi teknis, narasumber Syaiful Yusuf, S.P., memaparkan strategi pengendalian terpadu yang tidak hanya mengandalkan bahan kimia, tetapi juga ketepatan cara aplikasi. Salah satu detail kecil yang sering diabaikan petani adalah kontaminasi aroma pada umpan tikus.

Petani diingatkan untuk selalu menggunakan sarung tangan saat memasang rodentisida di lubang-lubang aktif. Hal ini bertujuan agar umpan tidak terkontaminasi aroma manusia yang dapat membuat tikus curiga dan enggan memakan umpan tersebut. Fokus aplikasi diarahkan langsung pada lubang-lubang yang teridentifikasi sebagai sarang aktif di pematang sawah.

Aksi lapangan ini turut melibatkan Koordinator Jabatan Fungsional Balintan, Kepala BPP Kecamatan Dungaliyo, serta para penyuluh pertanian setempat. Kehadiran para petugas lapangan ini bertujuan memastikan petani mampu menerapkan teori pengendalian secara berkelanjutan secara mandiri di masa mendatang.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan kelompok tani, diharapkan ketahanan pangan di Desa Bongomeme tetap terjaga. Kesadaran petani untuk melakukan pengamatan dini secara rutin menjadi benteng pertahanan utama dalam menghadapi dinamika serangan hama di Kabupaten Gorontalo.

Reporter: Feri Andika
Back to top