Menanamkan kecintaan pada budaya lokal kini menjadi tantangan besar bagi orang tua milenial di tengah gempuran tren global. Artikel ini mengulas alasan pentingnya menjaga bahasa daerah di rumah agar anak tetap memiliki akar identitas yang kuat dan tidak merasa asing dengan budayanya sendiri.
Fenomena "Indomi" atau campuran bahasa Indonesia-Minang kini makin marak di kalangan anak muda Sumatra Barat. Istilah ini merujuk pada hibriditas bahasa yang secara struktur dan rasa telah kehilangan kedalamannya. Banyak orang tua di perkotaan sengaja memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di rumah karena dianggap sebagai modal kesuksesan akademik anak ke depannya.
Kondisi ini menciptakan jarak komunikasi yang unik. Anak-anak muda yang secara genetik adalah putra-putri asli Minangkabau justru merasa bingung saat mendengar kosakata lama yang dahulu lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Ruang domestik yang seharusnya menjadi benteng pertahanan tradisi, perlahan berubah menjadi tempat sterilisasi identitas lokal.
Ada persepsi terselubung di kalangan keluarga perkotaan bahwa bahasa Indonesia memiliki nilai lebih untuk mobilitas sosial. Sebaliknya, bahasa daerah sering kali secara keliru diidentikkan dengan sifat kedaerahan yang dianggap kasar atau menghambat proses modernisasi diri. Hal ini berkaitan erat dengan teori habitus dari sosiolog Pierre Bourdieu.
Habitus adalah gaya hidup, nilai, dan kecenderungan kelompok sosial yang diperoleh melalui pengalaman sehari-hari. Ketika Ibu memilih menggunakan bahasa Indonesia secara kolektif, Ibu sedang membentuk habitus baru. Sayangnya, kebiasaan ini sering kali memisahkan anak dari identitas agraris-tradisional yang menjadi akar budayanya.
Tekanan psikologis untuk terlihat sebagai kelas menengah yang kosmopolitan juga berperan besar. Penggunaan bahasa Indonesia dianggap sebagai simbol kemajuan keluarga urban. Akibatnya, fungsi bahasa daerah dalam ranah intim seperti keluarga mulai hilang dan digantikan oleh bahasa yang dianggap memiliki prestise lebih tinggi.
Pergeseran ini berdampak sistemik, mulai dari interaksi di tempat mengaji hingga bangku perkuliahan. Banyak mahasiswa mengaku terbiasa berbahasa Indonesia bukan karena membenci budaya lokal, tetapi karena itulah bahasa pertama yang mereka kenal sejak di rumah. Batas fungsional bahasa pun akhirnya runtuh.
Kondisi ini dikenal dengan istilah Language Loss atau kehilangan bahasa secara bertahap. Anak-anak mungkin memahami apa yang dibicarakan kakek atau neneknya, namun mereka tidak mampu merespons dengan bahasa yang sama. Identitas budaya yang seharusnya mengalir secara alami justru terasa seperti dialek kuno yang sudah punah.
Ironi ini sempat viral dalam percakapan antara TikToker Una (Nadya Khietna Putri) dengan Fujianti Utami Putri. Meski lahir dan besar di jantung Ranah Minang, Una mengakui bahwa ia awalnya merasa kikuk untuk berbicara Minang secara fasih. "Kecanggungannya bukan karena ia tidak tahu, tetapi karena sejak kecil di rumah, orang tuanya secara konsisten mengajarkannya berbahasa Indonesia," ungkapnya dalam sebuah tayangan podcast.
Ibu bisa mulai mengenalkan kembali bahasa ibu melalui hal-hal sederhana di rumah. Gunakan kosakata daerah untuk benda-benda di sekitar atau sapaan dalam keluarga. Misalnya, tetap menggunakan panggilan "Inyiak" daripada menggantinya menjadi "Opa" atau "Oma" untuk menjaga kedekatan emosional dengan akar tradisi.
Jangan ragu untuk menyelipkan petatah-petitih atau cerita rakyat sebelum tidur dalam bahasa daerah. Langkah kecil ini membantu anak memahami bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi pasar, melainkan warisan yang penuh nilai filosofis. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang modern namun tetap bangga dengan jati dirinya.
Mengenalkan bahasa daerah tidak akan menghambat kemampuan bahasa Indonesia atau bahasa asing anak. Justru, anak yang mengenal banyak bahasa sejak dini memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Mari jadikan rumah sebagai tempat pertama anak mengenal dan mencintai identitasnya sendiri.