GORONTALO — West Ham United harus menerima kenyataan pahit degradasi dari Premier League setelah musim yang penuh dengan kegagalan manajerial. Pada laga pamungkas, Minggu (akhir pekan lalu), The Hammers memang menang meyakinkan 3-0 atas Leeds United di London Stadium. Namun, kemenangan itu menjadi tidak berarti setelah Tottenham Hotspur mengalahkan Everton di pertandingan lain, memastikan West Ham turun kasta.
Kemenangan Manis di Hari yang Pahit
Jarrod Bowen menjadi bintang kemenangan West Ham dengan mencetak gol kedua pada menit ke-78. Ia menerobos pertahanan Leeds yang sudah kehilangan konsentrasi. Gol itu sempat memicu euforia singkat di London Stadium, memberikan secercah harapan akan skenario lain yang tak pernah terwujud.
Namun, kabar gol Tottenham segera menyebar dan langsung mematikan atmosfer stadion. "Energi lenyap dari tribun, seperti melihat pemadaman listrik melanda Los Angeles," tulis analis Barney Ronay dalam kolomnya. Bahkan, suporter sudah menyanyikan "Kau jual jiwa kami untuk tempat sampah ini" kepada pemilik klub, David Sullivan, yang duduk di ruang VIP.
Biaya Degradasi: £100 Juta di Musim Pertama
Degradasi ini diperkirakan akan menggerus keuangan klub hingga £100 juta hanya di musim pertama. Konsekuensi langsungnya adalah pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah staf. Lebih jauh, Wali Kota London Sadiq Khan menyebut degradasi ini akan membebani warga London hingga £2,5 juta per tahun untuk menutup biaya sewa dan pengamanan stadion. Ironisnya, kesepakatan sewa stadion yang merugikan itu dinegosiasikan langsung oleh mantan Perdana Menteri Boris Johnson.
Kegagalan Eksekutif Tanpa Henti
Penyebab degradasi West Ham bukanlah misteri. "Kegagalan eksekutif tanpa henti," tulis Ronay. "Pemborosan sumber daya yang memalukan. Tingkat manajemen yang puas diri dan berkualitas rendah." Klub-klub papan menengah lain terus berkembang dan berkompeten di semua lini, sementara West Ham hanya "bermain-main di pusat perbelanjaan sewaan" mereka.
David Sullivan dan keluarganya yang menduduki posisi eksekutif disebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Mereka kerap disebut "dinosaurus" sepak bola, sebuah label yang dinilai tidak adil bagi dinosaurus yang setidaknya masih berevolusi menjadi burung dan kadal. West Ham, sebaliknya, tidak memiliki kualitas luar biasa dalam hal produksi pemain maupun perekrutan dan pemecatan pelatih.
Stadion Tanpa Jiwa dan Masa Depan yang Suram
London Stadium, yang dulunya adalah arena atletik Olimpiade, selalu terasa janggal sebagai kandang sepak bola. Topografinya membuat penonton merasa berada di sudut yang salah terhadap lapangan. Setelah sepuluh tahun, perasaan terputus itu tak kunjung hilang. Kini, West Ham harus bersiap bermain di kasta kedua dengan kemungkinan menjual hak penamaan stadion ke merek-merek seperti Wimpy atau Ryanair.
Pelatih Nuno Espírito Santo, yang terlihat muram di pinggir lapangan, sudah memberikan isyarat dalam catatan program pertandingan: "Ada banyak hal yang bisa kami katakan tentang beberapa pertandingan terakhir. Hampir semuanya tidak baik." West Ham kini harus memulai dari awal, membangun kembali klub yang telah kehilangan jati dirinya.