BONE BOLANGO — DPRD Kabupaten Bone Bolango menggelar rapat pemanggilan Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat pada Senin (18/5/2026) untuk membahas fenomena kematian massal ikan di Sungai Bone. Anggota DPRD Bone Bolango, Yakub Tangahu, menegaskan bahwa pihaknya mendesak pemerintah daerah segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel air sungai dan bangkai ikan yang ditemukan.
“Kami akan mengundang dinas terkait, terutama Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bone Bolango. Ini harus segera ditindaklanjuti,” tegas Yakub kepada media, Senin (18/5/2026), dikutip dari Ulanda.id.
Kekhawatiran Pencemaran Sianida dan Merkuri
Praktisi hukum Gorontalo, Frengki Uloli, melalui media sosialnya mempertanyakan kaitan kematian ikan dengan aktivitas pengelolaan tromol di sekitar Sungai Bone. Ia menyoroti potensi kandungan sianida (CN) dan merkuri yang mungkin terbawa arus sungai saat banjir meluap.
“Beberapa hari terakhir banyak laporan terkait penemuan bangkai ikan di seputaran bantaran Sungai Bone pasca luapan air sungai. Apakah ini ada hubungannya dengan aktivitas pengelolaan tromol di sekitaran Sungai Bone?” tulis Frengki dalam unggahannya.
Menurutnya, kaporit dan garam yang biasa digunakan dalam pengolahan air PDAM tidak mampu menetralkan sianida maupun merkuri. Ia pun menyampaikan kekhawatirannya langsung kepada Wali Kota Gorontalo melalui pesan WhatsApp, mendesak antisipasi terhadap penggunaan air baku PDAM yang bersumber dari Sungai Bone.
Pelaku Tromol Bantah Tudingan, Klaim Sistem Pengelolaan Modern
Tokoh pejuang tambang Suwawa, Fadjar Wartabone, menyambut positif langkah DPRD untuk melakukan uji laboratorium. Namun ia mengingatkan agar persoalan ini tidak serta-merta dikaitkan dengan aktivitas tromol milik penambang rakyat.
Fadjar mengklaim para pelaku usaha tromol di wilayah tersebut kini telah menggunakan sistem pengelolaan yang lebih modern, termasuk dalam penanganan cairan sianida. “Sistem sekarang sudah jauh lebih canggih, bahkan sisa cairannya disebut-sebut aman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa limbah hasil proses pengolahan sudah melalui tahapan penyaringan dengan teknologi yang memadai, sehingga tidak langsung mencemari aliran sungai.
Hasil Laboratorium Jadi Kunci Jawaban
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi teknis terkait mengenai penyebab pasti kematian ikan di Sungai Bone. Masyarakat kini menantikan hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah fenomena tersebut murni disebabkan faktor alam pascabanjir, ataukah berkaitan dengan aktivitas manusia di sekitar aliran sungai.
Desakan agar pemerintah daerah segera melakukan investigasi lingkungan secara menyeluruh terus menguat, baik dari warga maupun dari kalangan legislatif. Sungai Bone sendiri selama ini menjadi salah satu sumber air baku yang dimanfaatkan masyarakat, sehingga dugaan pencemaran ini memicu perhatian serius dari publik.